Curhat

malioboro

malioboro
Malioboro Street

Fish

Label

Rabu, 16 Juni 2010

metodologi penelitian pendidikan islam

“METODE PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM”
SUPARMANTO
151072027
PBA V/A

1. PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan dari segi bahasa dapat dimaknai sebagai perbuatan (hal atau cara), mendidik, dan pemeliharaan. Dalam khazanah islam, terdapat enam macam peristilahan yang masing-masing berkemungkinan menjadi peristilahan dalam pendidikan islam, yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan riyadhah. Kesemuanya itu memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab salah satu istilah itu sebenarnya telah mewakili istilah yang lain. Namun penggunaan istilah tarbiyah lebih cocok dan banyak diterima oleh para ulama dan pakar keilmuan, seperti Ahmad Fu’ad Al-Ahwani, Al Khalil Abu Al-Ainain, Muhammad Athiyah Al-Abrasyi Dan Muhammad Munir.
Menurut Fahr Al-Razi, istilah tarbiyah (rabba yarubbu tarbiyah) tidak hanya mencakup ranah kognitif saja, tetapi juga afektif. Sementara Syed Quthub menafsirkan istilah tersebut sebagai pemeliharaan jasmani anak dan menumbuhkan kematangan mentalnya. Dengan demikian pendapat ini memberi gambaran bahwa istilah tarbiyah mencakup tiga dominan pendidikan, yaitu kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotorik (karsa) dan dua aspek pendidikan, yaitu jasmani dan rohani.
Oleh karena itu, pendidikan (tarbiyah) diartikan sebagai usaha atau proses pembinaan, menumbuhkembangkan, pengasuhan domain jasmani dan rohani agar dapat melakukan perannya seoptimal dan semaksimal mungkin. Sedangkan pendidikan apabila dikolaborasikan dengan islam (sebagai suatu agama), maka memiliki muatan sebagai pendidikan berdasarkan ajaran-ajaran islam itu sendiri. Dengan kata lain, proses atau upaya pengembangan potensi manusia (peserta didik) dalam berbagai aspeknya berdasarkan nilai-nilai ajaran islam.
Adapun aspek-aspek pendidikan islam memiliki cakupan dari berbagai segi, di antaranya:
1. Segi materi didikannya; meliputi pendidikan fisik, akal, agama (akidah dan syari’ah), akhlak, dan sosial kemasyarakatan yang digambarkan oleh Allah dalam al-qur’an dan hadits.
2. Segi sejarah atau periodenya, meliputi; periode pembinanaan masa nabi Muhammad saw (penurunan wahyu hingga wafat). Periode wafatnya nabi Muhammad hingga perkembangan ilmu-ilmu naqliyah pada masa bani Umayyah, periode kejayaan, kemunduran dan pembaharuan pendidikan islam.
3. Segi kelembagaanya, meliputi; model-model pendidikan seperti kuttab, masjid, masjid khan dan madrasah.
4. Segi sistem dan kedudukannya sebagai suatu ilmu, mengandung aspek tujuan, kurikulum, guru, proses pembelajaran, metode pendekatan, manajemen pendidikan dan seterusnya. Dan sungguh hal-hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

2. MODEL-MODEL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan islam merupakan pendidikan yang cakupannya meliputi masalah-masalah yang berada dalam dataran ilmu pengetahuan (sains). Dengan demikian, maka objek kajian pendidikan islam berlandaskan pada pengetahuan ilmu (berdasarkan metode dan praktek penelitian). Kemudian pengetahuan yang bersifat abstrak, penuh dengan kajian berpikir (logika) yang disebut dengan pengetahuan filsafat. Selanjutnya, pengetahuan yang bersifat mistik yaitu tidak bersifat empiris dan tidak pula dijankau oleh akal pikiran manusia.
Objek kajian keislaman di atas (filsafat dan mistik), telah banyak dilakukan oleh para pakar keilmuan islam. Kita dapat melihat sepintas, bahwa sesungguhnya para ilmuan banyak menfokuskan pemikirannya pada dataran keilmuan seperti ini. Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibani misalnya, mengkhususkan diri pada kajian bidang filsafat pendidikan islam yang termuat dalam bukunya “Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islamiyah”. Sementara itu, kajian pengetahuan di bidang mistik telah dilakukan oleh Al-Ghazali yang dituangkan dalam bukunya “Ihya’ Ulum Al-Din”. Kemudian pemikiran-pemikirannya ini banyak diteliti oleh ilmuan-ilmuan sesudahnya seperti Fatahiyah Hasan Fahmi.
Sungguhpun demikian, penelitian terhadap ilmu pendidikan yang bersifat empiris dinilai masih belum banyak dilakukan oleh para pakar islam. Sehingga penelitian tentang objek kajian ini menjadi suatu modal dan usaha baru bagi perkembangan ilmu pendidikan islam selanjutnya.
Lebih daripada itu, Pendidikan islam akan melahirkan teori-teori yang dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan islam. Karena memang, literatur kajian yang lahir dalam dunia islam sangatlah luas dan banyak. Sehingga berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sosial harus dicarikan titik kemaslahatannya. Dengan demikian, kita dapat mengarahkan berbagai aspek yang terkandung dalam pendidikan itu sendiri. Misalnya problema-problema yang mungkin menjadi kendala dalam pengembangan ilmu pendidikan islam.
Model penelitian pendidikan islam begitu beragam, ada yang membahas tentang problema kependidikan baik dari segi pengajar (guru), lembaga atau instansi pendidikan, serta mengenai kultur pendidikan islam. Berikut uraiannya:
1. Penelitian tentang problema guru.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, yaitu penelitian yang sepenuhnya didasarkan pada data yang dijumpai di lapangan, tampa didahului oleh kerangka teori, asumsi atau hipotesis. Penelitian yang dilakukan oleh Himpunan Pendidikan Nasional itu menitikberatkan penelitiannya menyangkut kondisi dan kopensasi tugas mengajar guru. Akan tetapi, dari sekian hal yang diajukan oleh pihak peneliti, maka didapati bahwa faktor utama lemahnya pendidikan dan pengajaran bertumpu pada waktu (kurangnya istirahat). Hal ini menggambarkan kepada kita untuk bagaimana mengatur waktu dengan sedisiplin mungkin, hingga akhirnya seorang guru tidak lagi meninggalkan fungsinya sebagai seorang pengajar.
1. Penelitian tentang lembaga pendidikan islam.
Lembaga pendidikan islam merupakan lembaga yang mengatur segala proses dan tuntutan dalam dunia pendidikan. Lembaga yang baik dalam mengkoordinir tugas kelembagaanya, maka akan baik pula terhadap hasil karyanya. Penelitian lembaga pendidikan islam di indonesia telah dilakukan oleh Karel A. Stenbrink dan dimuat dalam bukunya “Pesantren, Madrasah Dan Sekolah Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern”. Ia melakukanya dengan metode pengamatan (observasi) melalui pendekatan komperatif dan bersifat deskriptif. Dari hasil penelitiannya itu dapat dipaparkan bahwa lembaga pendidikan di indonesia telah menfungsikan lembaganya sebagai sesuatu yang memberikan ranah kebutuhan hidup pendidikan sesuai dengan zamannya. Dengan demikian, pendidikan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan dan zaman merupakan hal yang membanggakan.


2. Penelitian tentang kultur pendidikan islam
Penelitian tentang kultur pendidikan islam pernah dilakukan oleh Matsusu dengan metode pendekatan grounded research yang mendasarkan pada anlisis dan fakta yang didapati di lapangan (berbagai pondok). Karena penelitiannya ini berbentuk disertasi, maka semua kerangka teori dan merode penelitiannya berdasarkan sistem yang ilmiah (pendahuluan, tinjauan pustaka, kerangka dan metode serta simpulannya). Dari hasil penelitian ini, peneliti mengharapkan dan menginginkan agama islam untuk mampu menjelajahi tantangan pembangunan, serta mendorong para pemeluknya untuk ikut berpartisipasi dalam membangun negara dengan penuh tanggung jawab.
Model penelitian yang dilakukan oleh Matsusu ini, patut untuk diikuti dan dikembangkan oleh kita semua. Karena ia telah menggambungkan berbagai kerangka kajian yang mudah dipahami dan dimengerti. Ia telah merumuskan silsilah penelitian dengan menjelaskan berbagai masalah berdasarkan pada sub judunya masing-masing.
Lebih dari itu, penelitian tentang kultur pendidikan islam ini, juga dilakukan oleh Zamakhasyari Dhofier. Dalam penelitiannya, ia mencoba menggali penelitian dari berbagai literatur yang tersedia (sosial kemasyakatan). Dengan metode yang sama seperti dengan Matsusu (survey dan pengamatan), ia mengkritik penelitian sebelumnya yang hanya mengarah pada pendekatan intelektual dan teologi semata, sehingga seringkali menghasilakan kesimpulan yang simpang siur (tidak falid). Pembahasan penelitian Zamakhasyi Dhofier lebih bersifat deskriptif dengan pendekatan anlisis.
Dari kedua penelitian yang dilakukan oleh tokoh pembaharuan di atas, dapat dipahami bahwa penelitian mereka difungsikan untuk menguji bagaimana dan seperti apa tradisi dalam pendidikan islam selama ini (klasik dan kontemporer). Dengan demikian terlihatlah bagaimana tradisi kebudayaan yang mungkin masih bisa diterima oleh masyarakat atau mungkin mesti dipilah dan dipilih lagi. “Al-muhafadhatu ‘ala qadimi al-sholih wal akhdadu bi al-jadidul al-ashlah”.