Curhat

malioboro

malioboro
Malioboro Street

Fish

Label

Rabu, 16 Juni 2010

model penelitian filsafat

MODEL PENELITIAN FILSAFAT
HAIRIL ANWAR
151072034
PBA / V A

1. PENGERTIAN FILSAFAT
Filsafat merupakan salah satu bidang studi islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mereka yang berpikiran maju lebih terbuka menerima pemikiran filsafat. Sedangkan mereka yang bersifat tradisional yakni bepegang teguh kepada doktrin ajaran al-qur’an dan al-hadits secara tekstual, cenderung kurang mau meresponnya, bahkan menolaknya.
Secara etimologis filsafat islam terdiri dari gabungan kata filsafat dan islam. Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan kata shopos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian secara bahasa filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Al-Syaibani berpendapat bahwa filsafat berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Selanjutnya kata islam berasal dari bahasa arab “aslama, yuslimu, islaman” yang berarti selamat, tunduk, berserah diri dan selamat. Sedangkan islam itu sendiri merupakan suatu istilah atau nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada umat manusia melalui nabi Muhammad saw.
Adapun yang dimaksud dengan filsafat islam, menurut Musa Asy’ari filsafat merupakan medan pemikiran yang terus berkembang dan berubah dengan pendekatan yang tidak hanya menekankan pada studi tokoh saja, melainkan juga dengan memahami proses dialektik kepemikiran. Pemikiran itu dapat dikembangkan melalui kajian-kajian tematik atas persoalan-persoalan yang terjadi pada setiap zaman.
Selanjutnya Amin Abdullah memiliki pemikiran bahwa filsafat memiliki mata rantai yang menghubungkan gerakan pemikiran filsafat islam era kerajaan Abasyiah dan dunia luar di wilayah islam, tidak lain adalah proses panjang asimilasi dan akulturasi kebudayaan islam. Karena pemikiran ini, ia memiliki perbedaan pandangan dengan pendapatnya Musa Asy’ari yang mengatakan bahwa filsafat tidak lain adalah pemikiran muslim yang bergantung pada konsep filsafat yunani.

Namun secara umum bahwa filsafat dapat diketahui melalui lima ciri, yaitu:
1. Dilihat dari segi sifat dan coraknya, filsafat islam berdasar pada ajaran islam
2. Dilihat dari ruang lingkup pembahasannya, filsafat islam mencakup pembahasan bidang fisika atau alam raya yang selanjutnya disebut bidang kosmologi. Kemudian di bidang metafisika, ilmu penetahuan atau epistemologi, kecuali masalah zat Tuhan.
3. Dilihat dari segi datangnya, filsafat islam sejalan dengan perkembaangan ajaran islam itu sendiri, tepatnya ketika bagian dari ajaran islam memerlukan penjelasan secara rasional filosofis.
4. Dilihat dari segi mengembangkannya, filsafat islam dalam arti materi pemikiran filsafatnya, bukan kajian sejarahnya dan juga oleh orang-orang yang beragama islam.
5. Dilihat dari segi kedudukannya, filsafat islam sejajar dengan bidang studi keislaman yang lainnya seperti fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, sejarah kebudayaan islam dan pendidikan islam.

2. MODEL MODEL PENELITIAN FILSAFAT
Berbagai bidang keilmuan yang menjadi garapan filsafat islam telah diteliti oleh pakar-pakar ilmu dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan yang komperehensif. Di antara para ahli itu adalah:
A. Model M. Amin Abdullah
M. Amin Abdullah melakukan bidang penelitiannya pada masalah filsafat islam dalam rangka penulisan disertasinya. Hasil penelitiannya itu dituangkan dalam bukunya yang berjudul “the idea universality ethical norm in ghazali and kant”. Penelitiannya itu mengambil metode penelitian kepustakaan bercorak deskrptif analisis dan diakhirkan dengan kesimpulan. Ia melakukan penelitian melalui pendekatan studi tokoh dengan cara melakukan studi komparasi antara pemikiran iman Al-Ghazali dan Kant. Penelitian ini timbul setelah melihat melaui penelitiannya, bahwa sebagian penelitian filsafat islam yang dilakukan para ahli selama ini berkisar pada masalah sejarah filsafat islam dan bukan pada materi filsafat itu sendiri.
Penelitian yang memiliki corak yang sama dengan M. Amin adalah yang dilakukan oleh Sheila Mcdonough dalam karyanya yang berjudul “ muslim ethics and modernity: a comparative study of the etihcal though of sayyid ahmad khan and maulana maududi”. Ia melakukannya dengan penelitian yang kuantitatif yang bercorak deskriptif analitis. Akan tetapi objek kajiannya ditunjukkan kepada Ahmad Khan dan Maulana Mawdudi.

B. Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhri dan Harun Nasution
Horrassowitz telah melakukan penelitian terhadap seluruh pemikiran filsafat islam yang berasal dari tokoh-tokoh abad klasik seperti; Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi, Ibn Maskawih, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Tuffail, Ibn Rusyd Dan Nasir Al-Din Al-Tusi. Ia mengemukakan kembali segala bentuk dan rupa model penelitian yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ini. Ia juga bahkan mengemukakan mengenai riwayat hidup serta karya tulis dari masing-masing tokoh tersebut.
Penelitian yang serupa dilakukan oleh Majid Fakhri. Ia menyajikan hasil penelitiannya tentang ilmu kalam, mistisisme, kecenderungan-kecenderungan modern dan kontemporer dan juga filsfat. Selain menjelaskan kembali hasil penelitian tokoh-tokoh dan riwayat hidupnya, ia juga mengarahkan pemikirannya dalam bidang filsafat. Penelitiannya dilakukan dengan pendekatan kawasan dan substansi atau historis.
Selain dari pada itu, Harun Nasution juga melakukan penelitian melalui pendekatan tokoh dan pendekatan historis. Bentuk penelitiannya adalah deskriptif dan bersifat kualitatif. Ia mencoba menyajikan pemikiran filsafat berdasarkan tokoh yang ditelitinya yang dalam hal ini Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Sina Dan Ibn Rusydi. Sedangkan pendekatan historis, ia mencoba menyajikan tentang sejarah timbulnya pemikiran filsafat islam yang dimulai dengan kontak pertama antara islam dan ilmu pengetahuan secara falsafah yunani.

C. Model Ahmad Fuad Al-Ahwani
Ahmad Fuad Al-Ahwani termasuk pemikir modern dari mesir yang banyak mengkaji dan meneliti bidang filsafat islam. Salah satu karyanya dalam bidang filsafat berjudul “filsafat islam”. Selain menjelaskan kembali hasil penelitian tokoh-tokoh dan riwayat hidupnya, ia juga mengemukakan tentang jasa dari masing-masing filosof dan pemikirannya dalam bidang filsafat. Ia bahkan menambahkan dan menyajikan penelitian tentang zaman penerjemahan. Metode penelitiannya adalah kepustakaan, bercorak deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis, kawasan dan tokoh.


MODEL PENELITIAN TASAWUF

PENDAHULUAN
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia. Ia mencakup berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia yang bersifat lahiriyah muapun bathiniyah (esoterik). Melalui cara-cara atau ramalan-ramalan dalam dunia kesufian, manusia diharapkan dapat tampil sebagai seorang yang berkepribadian jujur dan benar dalam segala hal.
Tasawuf mulai mendapatkan perhatian dan dituntut peranannya untuk terlibat secara aktif dalam mengatasi masalah-masalah keduniawian. Hal ini terlihat bahwa tuntutan zaman yang semakin membara membuat sebagian masyarakat cenderung mengarah kepada akadensi moral dan keterpurukan akhlak. Manusia cenderung melakukan sesuatu atas dasar kebebasan. Sehingga ia semene-mena dan acuh tak acuh terhadap akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya.
Tasawuf memiliki potensi dan otoritas yang tinggi dalam menangani masalah ini. Tasawuf secara intensif memberikan pendekatan-pendekatan agar manusia selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam kesehariannya. Kehadirannya berupaya untuk mengatasi krisis akhlak yang terjadi di masyarakat islam di masa lalu (klasik) tahun 650-1250 M. Masa dimana kehidupan manusia bersifat foya-foya dan suka menghamburkan harta. Dan sungguh masa kinipun sudah terlihat dan memperlihatkan pengaruhnya terhadap perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. PENGERTIAN TASAWUF
Tasawuf dari segi kebahasaan terdapat sejumlah istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya, menyebutkan lima istilah yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan nabi dari makkah ke madinah, shaf yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan shalat berjamaah, sufi yaitu bersih dan suci, shopos (bahasa yunani:hikmah) dan suf (kain wol kasar).
Ditinjau dari lima istilah di atas, maka tasawuf dari segi kebahasaan menggambarkan keadaan yang selalu beroreantasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah, berpola hidup sederhana, mengutamakan kebenaran dan rela mengorbankan demi tujuan-tujuan yang lebih mulia disisi Allah. Sikap demikian pada akhirnya membawa sesesorang berjiwa tangguh, memiliki daya tangkal ynag kuat dan efektif terhadap berbagai godaan hidup yang menyesatkan.
Selanjutnya, secara teriminologis tasawuf memiliki tiga sudut pandang pengertian. Pertama, sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas. Tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya penyucian diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah. Kedua, sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang. Sebagai makhluk yang harus berjuang, manusia harus berupaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber pada ajaran agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Ketiga, sudut pandang manusia sebagai makhluk bertuhan. Sebagai fitrah yang memiliki kesadaran akan adanya Tuhan, harus bisa mengarahkan jiwanya serta selalu memusatkan kegiatan-kegiatan yang berhubungna dengan Tuhan.

2. MODEL-MODEL PENELITIAN TASAWUF
1. Model Sayyed Husein Nasr
Sayyed Husein Nasr merupakan ilmuan yang amat terkenal dan produktif dalam melahirkan berbagai karya ilmiah, termasuk ke dalam bidang tasawuf. Hasil penelitiannya disajikan dalam bukunyan yang bejudul “tasawuf dulu dan sekarang”. Ia menggunakan metode penelitian dengan pendekatan tematik, yaitu pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu. Dengan penelitian kualitatif mendasarinya pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah. Ia menambahkan bahwa tasawuf merupakan sarana untuk menjalin hubungan yang intens dengan Tuhan dalam upaya mencapai keutuhan manusia. Ia bahkan mengemukakan tingkatan-tingkatan kerohanian manusia dalam dunia tasawuf.

2. Model Mustafa Zahri
Mutafa Zahri memusatkan perhatiannya terhadap tasawuf dengan menulis buku berjudul “kunci memahami ilmu tasawuf”. Penelitiannya bersifat ekploratif, yakni menggali ajaran tasawuf dari berbagai literatur ilmu tasawuf. Ia menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran pada al-qur’an dan hadits. Ia menyajikan tentang kerohanian yang di dalamnya dimuat tentang contoh kehidupan nabi, kunci mengenal Allah, sendi kekuatan batin, fungsi kerohanian dalam menenteramkan batin, serta tarekat dan fungsinya. Ia juga menjelaskan tentang bagaimana hakikat tasawuf, ajaran makrifat, do’a, dzikir dan makna lailaha illa Allah.

3. Model Kautsar Azhari Noor.
Kautsar Azhari Noor memusatkan perhatiannya pada penelitian tasawuf dalam rangka disertasinya. Judul bukunya adalah wahdat al-wujud dalam perdebatan dengan studi dengan tokoh dan pahamnya yang khas, Ibn Arabi dengan pahamnya wahdat al- wujud. Paham ini timbul dari paham bahwa Allah sebagaimana yang diterangkan dalam uraian tentang hulul, ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Oleh karena itu, dijadikan-Nya alam ini. maka alam ini merupakn cermin bagi Allah. Dikala Ia ingin melihat dirinya, ia melihat kepada alam.
Paham ini telah menimbulkan kontroversi di kalangan para ulama, karena paham tersebut dinilai membawa reinkarnasi, atau paham serba Tuhan, yaitu Tuhan menjelma dalam berbagai ciptanya. Dengan demikian orang-orang mengira bahwa Ibn Arabi membawa paham banyak Tuhan. Mereka berpendirian bahwa Tuhan dalam arti zat-Nya tetap satu, namun sifat-Nya banyak. Sifat Tuhan yang banyak itupun dalam arti kualitas atau mutunya, berbeda dengan sifat manusia.

4. Model Harun Nasution
Harun Nasution merupakan guru besar dalam bidang teologi dan filsafat islam dan juga menaruh perhatian terhadap penelitian di bidang tasawuf. Dalam bukunya yang berjudul filsafat dan mistisisme dalam islam, ia menggunakan metode tematik, yakni penyajian ajaran tasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat kepada Tuhan, zuhud dan stasion-stasion lain, al-mahabbah, al-ma’rifat, al-fana, al-baqa, al-ittihad, al-hulul, dan wahdat al-wujud. Pendekatan tematik dinilai lebih menarik karena langsung menuju persoalan tasawuf dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat tokoh. Penelitiannya itu sepenuhnya bersifat deskriptif eksploratif, yakni menggambarkan ajaran sebagaimana adanya dengan mengemukakannya sedemikian rupa, walau hanya dalan garis besarnya saja.



5. Model A. J. Arberry
Arberry merupakan salah seorang peneliti barat kenamaan, banyak melakukan studi keislaman, termasuk dalam penelitian tasawuf. Dalam bukunya “pasang surut aliran tasawuf”, Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Dengan pendekatan tersebut ia coba kemukakan tentang firman Allah, kehidupan nabi, para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, sruktur teori dan amalan tasawuf , tarikat sufi, teosofi dalam aliran tasawuf serta runtuhnya aliran tasawuf.
Dari isi penelitiannya itu, tampak bahwa Arberry menggunakan analisis kesejarahan, yakni berbagai tema tersebut dipahami berdasarkan konteks sejaranya, dan tidak dilakukan proses aktualisasi nilai atau mentranformasikan ajaran-ajaran tersebut ke dalam makna kehidupan modern yang lebih luas.