Curhat

malioboro

malioboro
Malioboro Street

Label

Senin, 17 Juni 2013

TRADISI ISLAM WETU TELU: DIALEKTIKA ISLAM DAN BUDAYA SASAK (KAJIAN PENDEKATAN SOSIOLINGUISTIK)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Antara agama dan budaya sama-sama melekat pada diri seseorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal fikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun aspek ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan, dan bahkan berinteraksi dengan budaya. Kebudayaan sangat berperan penting di dalam terbentuknya sebuah praktik keagamaan bagi seseorang atau masyarakat. Tidak hanya melahirkan bermacam-macam agama, kebudayaan inilah juga mempunyai andil besar bagi terbentuknya aneka ragam praktik beragama dalam satu payung agama yang sama. Dalam kenyataannya dua atau lebih orang dengan agama yang sama belum tentu mempunyai praktik atau cara pengamalan agama, khususnya ritual, yang sama. Keragaman cara beribadah dalam suatu komunitas agama ini mudah kita dapati dalam setiap masyarakat, dengan terbentuknya berbagai macam kelompok agama.[1]
Islam Wetu Telu yang sebagian besar adalah masyarakat pedesaan yang terisolir dan terbelakang dalam kehidupan. Mereka pada umumnya berdomisili di bagian utara dan selatan pulau Lombok. Namun penganut Islam Wetu Telu yang masih dapat bertahan sampai saat ini hanya di bagian utara pulau Lombok, tepatnya di desa Bayan Kabupaten Lombok Barat dan sekaligus menjadi pusat Islam Wetu Telu.[2]
Wetu Telu ini merupakan praktik agama yang unik, yang sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam pada masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap.[3]
Disinilah pemakalah mencoba untuk mendeskripsikan bagaimana tradisi Islam Wetu Telu ini di tinjau dari perspektif sosiolinguistik, karna pemaknaan Wetu Telu dalam ajaran islam ini terkandung berbagai macam pemaknaan secara bahasa (linguist). Karna itu pemakalah tertarik untuk mendeskripsikan dialek suku sasak dalam ajar Islam Wetu Telu,,??
 B.     Sejarah Islam Wetu Telu
Di Indonesia, salah satu komunitas masyarakat muslim yang dapat menggambarkan bagaimana pergumulan islam, tradisi dan modernitas berlangsung adalah komunitas wetu telu. Munculnya beragam konsepsi  teologi tidak bisa lepas dari keberadaan manusia sebagai pelaku sejarah, pemikiran yang dipengaruhi oleh sosiokultural dan historitas peradaban manusia itu sendiri. Seberapa besar penting pengaruh manusia dalam berbagai bidang keilmuan dan kehidupan, David Hume mengatakan, bahwa semua ilmu pengetahuan berhubungan kodrat manusia, bahasa, matematika, filsafat, metafisika, dan agama kodrati (natural reigions).[4]
Masuknya agama Islam di Lombok tidak diketahui dengan pasti siapa yang membawa pertama kali. Ada dua versi yang menyebutkan bahwa agama Islam memasuki pulau Lombok dalam dua aliran sebagai berikut:
1)      Dari Makasar lewat Sumbawa kira-kira permulaan abad XVI yang dibawa oleh Sunan Perapen putra dari Sunan Giri. Ajaran ini masuk melalui labuhan Lombok.
2)      Dari pulau Jawa lewat Bayan atas instruksi Sunan Penggiang dari Jawa Tengah kira-kira permulaan abad XVI.
Terlepas dari adanya perbedaan tentang siapa yang membawa agama Islam ke Lombok, yang jelas masuknya Islam melalui dua aliran itu membawa suatu efek yang kurang baik dalam perkembangan selanjutnya. Sacara tidak langsung Islam pecah menjadi dua aliran yaitu Islam Waktu lima dan Islam Wetu Telu. Islam Wetu Telu berpusat di daerah Bayan sampai sekarang.
Asal usul terbentuknya Islam Wetu Telu dibayan sampai saat ini juga masih merupakan misteri, kapan dan siapa yang menamakannya pertama kali. Ada beberapa versi tentang latar belakang munculnya Islam Wetu Telu sebagai berikut. Sebuah versi menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu terbentuk bersamaan dengan penyebaran Islam di Lombok. Sebelum tuntas mengajarkan Islam, penyebarnya (wali atau muridnya) dengan sebab yang tidak diketahui meninggalkan Lombok, akibatnya masyarakat yang masih menganut agama Hindu dan Animisme tidak sepenunhnya mampu menyerap ajaran Islam. Maka mereka memadukan Animisme, Hindu dan Islam menjadi satu. Perpaduan inilah yang kemudian disebut dengan Islam Wetu Telu. Sesungguhnya penganut Islam Wetu Telu itu sebelah kakinya di Islam dan sebelah lagi Hindu dan Animisme.
Dengan nada yang sedikit berbeda, juga diungkapkan oleh Solichin Salam bahwa dalam menyebarkan Islam, para wali mengajarkan secara bertahap, sewaktu penganut Islam Wetu Telu itu berada pada tahap transisi dari Hindu ke Islam lalu mereka meninggalkan Lombok. Akibatnya tugas mereka belum tuntas dengan sempurna sedangkan para murid-muridnya yang ditinggalkan tidak berani menyempurnakan apalagi merubahnya, sehingga lama kelamaan terjadi penyimpangan dari ajaran Islam yang murni.
Versi lain menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu muncul karena adanya penghinduan yang dilakukan oleh pendeta bernama Dangkian Nirarka yang dikirim oleh Raja Gelgel dari Bali pada tahun 1530. Dengan cerdik pendeta itu mencoba meramu Islam, Hindu dan kepercayaan lama menjadi singkritisme.
Berbeda dari versi sebelumnnya, Islam Wetu Telu muncul setelah Belanda menguasai Lombok tahun 1890. Belanda mencari taktik untuk mengalahkan orang Sasak penganut Islam ortodok, maka mereka menciptakan istilah Islam Wetu Telu dengan tujuan untuk merusak dan mengarahkan kepada pertentangan terus-menerus. Sementara itu Raden Gedarip mengatakan bahwa istilah waktu dalam Islam Wetu Telu itu salah penggunaan tetapi yang benar adalah Wetu Telu dengan alasan bahwa “Wetu” berarti kemetuan dari tiga hal yaitu bertelur, tumbuh dan beranak. Dengan tetap terpeliharanya ketiga hal tersebut maka kesuburan dan kemakmuran di dunia ini akan lestari.
Dari beberapa pendapat diatas, yang jelas bahwa Islam Wetu Telu sangat berbau Islam meskipun dalam beberapa acara ritual tampak adanya singkritisme antara agama Islam, Hindu dan ajaran Nenek Moyang. Ketiga hal inilah yang lebih mendekati kebenaran asal-usul Islam Wetu Telu sebagaimana yang diungkapkan oleh Jalaludin Arzaki, Direktur Yayasan Kebudayaan dan Pengembangan pariwisasta Nusa Tenggara Barat. Juga versi yang menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu terbentuk atau muncul setelah Belanda menguasai Lombok.[5]
Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.[6]
Dalam dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu di masa modern ini.
Masyarakat Wetu Telu merupakan bagian dari masyarakat sasak Lombok yang sampai saat ini mengaku memeluk agama islam dan sangat ketat dalam menerapkan tradisi atau adat yang telah diwarisi turun temurun.  Terdapat pandangan yang menyebutkan bahwa Wetu Telu berartti “waktu tiga”[7] Erni Budiwanti menyebutkan bahwa Wetu Telu  merupakan agama tradisional, dibedakan dengan islam waktu lima yang merupakan agama samawi.[8]. kelompok wetu telu juga konon masih mempercayai adanya kekuasaan roh nenek moyang para leluhur mereka.[9] Yang dijadikan sebagai penghubung antara mereka dan roh leluhur adalah para mangku atau pemangku adat (tokoh adat). Sedangkan yang dianggap sebagai penghubung dengan tuhan adalah para kiyai adat atau penghulu. Oleh karna itu mereka tidak melaksanakan ajaran agama secara  utuh karena menurut mereka sudah diwakilkan kepada para kiyai atau penghulu.
Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan "Waktu Telu" sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme, dan kerpercayaan Hindu. Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan "Waktu Lima" karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu. Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian, kelahiran, penyembelihan hewan, selamatan dll) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.
Kepercayaan dan pendapat yang menyebar pada sebagian besar dikalangan luar meyakini bahwa Wetu Telu itu adalah ajaran agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat atau komunitas adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
C.    Lingkungan sosial wetu telu
Penganut Wetu Telu umumnya tergolong masyarakat yang masih murni, belum terpolarisasi dengan ide-ide globalisasi maupu modernisasi. Budaya mereka masih asli, belum terjamah budaya kontemporer, termaksuk masyarakat ang masih suci bain dan perbuatanya, yang akan selalu berbuat baik menurut ada istiadat nenek moyang dan leluhur mereka. Tidak suka mencuri, berbohong dan berbagai macam perbuatan yang merugikan orang ain. Mereka rata-rata lurus dan jujur, patuh kepada orang tua dan pemimpin mereka, berusaha menjaga persahabatan dan memiliki kebutuhan yang sangat minim, serta punya rasa tanggung jawab terhadap keluarga, kerabat dan tetangganya.
Sekilas roman keterbelakangan mereka disebabkan karena mereka jauh dari beragam informasi dan aasing dari beragam stimulus-invrovisasi yang berasal dari luar. Jauhnya mereka dengan informasi tersebut dilatar belakangi oleh dua faktor :
1.      Secara geografis, letak tepat tingga dan perkampungan mereka yang terpencil, hingga sulit di jangkau.
2.      Karena mereka terlalu bersikap auto prfektif terhadap warisan leluhur dan adat istiadat, yang menurut mereka dapat terdistorsi jika menerima beberapa stimulan luar.
Pakaian keseharian mereka, mencerminkan bahwa mereka adalah orang yang menjunjung inggi adat, dan berasal dari daerah terpencil. Biasanya mereka memakai pakaian yang mirip dengan budaya hindu-bali. Mereka suka menggunakan ikat kepala yang disebut sapuk untuk aki-laki dan jowong untuk yang perempuan,
Selain dari beberapa ciri di atas, terdapat bebearpa kriteria khusus mengidentikkan keberadaan penganut wetu telu dalam lingkungan masyarakat sasak secara  umum, diantaranya adalah kegemaran mereka untuk ngayo dan midang[10]  hubunganya dengan keinginan mereka untuk membina kerukunan di antara mereka, mengembangkan solidaritas sosial, tenggang rasa,  hormat menghormai, dan berbagai nilai serta norma kemasarakatan lainya.
Dalam tradisi ini orang diayokan atau yang dipidang (apalagi yang ngayo itu adalah rang tua yang memiliki pengaruh didesa dan lingkungan sekitar), dalam hal ini adalah tuan rumah seringkali menyuguhkan minumankhas sasak yaitu tuak[11] dan berem[12].
Para pria biasanya melakukan aktifitas midang setelah shalat magrib. Pria tersebut dan tamu-tamu yang lain disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk di berugak yang sengaja dibangun unuk tempat musyawarah, atau biasanya para tamu di terima diruang tamu.[13] Tamu pria yang datang untuk midang biasanya lebih dari satu orang, sehingga kesempatan tersebut dipergunakan oleh sang gadis dengan lebih leluasa untuk memilih dan menentukan pasangan yang dianggapnya tepat. Sedangkan bagi para pria, suasana tersebut dijadikan sebagai ajang kompetisi satu sama lain untuk memperebutkan hati sang gadis.
Bartholomew menilai bahwa saat sekarang ini midang merupakan cara terbaik bagi suatu pasangan untuk melangkah ke jenjang perkawinan. Karena pada saat midang, saat pemuda tidak hanya berbicara dengan sang gadis semata, namun orang tua bbiasanya juga ikut bergabung., berbiincang-bincang dengan para pria yang datang sehingga si gadis dan keluarganya  bias mengenal seluk beluk dan jati diri sang pemuda yang midang saat itu.[14]
Setelah ada kecocokan antara kedua belah pihak ada tradisi yang masih di pengang oleh orang-orang sasak wetu telu yaitu yaitu merarik (menikah) dengan cara menculik si perempuan (mencuri). Tak selamanya Mencuri atau Menculik akan di masukkan ke dalam penjara, tidak percaya cobalah berkunjung ke Pulau Lombok, sebuah taradisi yang sangat unik dan mungkin tidak akan di temukan di tempat lain, Tradisi unik ini adalah sebuah tradisi yang di lakukan oleh seorang Pemuda (Teruna) sebelum melakukan pernikahan. Para teruna harus mencuri atau menculik pasangannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya, apabila dalam sehari semalam tidak ada kabar dari si gadis maka oleh keluarganya telah di anggap sudah menikah.
Dari anggapan para Teruna Lombok (Pemuda) pernikahan dengan cara mencuri di anggap lebih kesatria dibandingkan dengan cara meminta secara hormat kepada orang tua si gadis. Jangan anggap remeh tradisi ini seperti dengan beranggapan tinggal mencuri dan langsung menikah, dalam tardisi ini ada beberapa aturan-aturan yang harus di lalui seperti dilakukan pada malam hari dan harus membawa teman atau kerabat yang berfungsi sebagi pengecoh supaya pada saat proses pencurian tidak mudah terlihat oleh seorangpun, apabila terlihat maka dari pihak keluarga ataupun desa akan mengenakan denda kepada Teruna, selain sebagai pengecoh kerabat yang di bawa berfungsi sebagai saksi dan sebagai pengiring pada saat proses pencurian.
Setelah berhasil mencuri, anak gadis tidak boleh di bawa pulang ke rumah Teruna pada saat itu juga, melainkan harus di bawa ke rumah kerabat laki-laki terlebih dahulu, setelah beberapa malam menginap maka dari keluarga kerabat akan mengirim utusan kepada keluarga si gadis untuk memberitahukan bahwa anak gadisnya telah di curi dan sudah berada di suatu tempat persembunyian yang di rahasiakan dari keluarga si gadis. Pada saat proses nyelabar[15] tidak boleh di ikut sertakan keluarga dari si Teruna. Proses nyelabar ini terdiri dari lima orang tidak boleh lebih ataupun kurang, pada saat proses nyelabar di haruskan untuk menggunakan pakaian adat sasak asli. Rombongan nyelabar tidak boleh langsung datang ke rumah si gadis melainkan terlebih dahulu datang ke rumah keliang[16]untuk meminta izin, setelah mendapatkan izin barulah kerabat dari pihak teruna di perbolehkan secara langsung mengunjungi rumah si gadis, para penyelabar tidak di perkenankan untuk memasuki rumah melainkan harus duduk bersila di halaman depan rumah . satu dari lima orang inilah yang akan menjadi juru bicara untuk menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan mereka.
Setelah beberapa proses di lalui maka terjadilah sebuah pernikahan, dalam peroses pernikahan. Di desa gangga yang terletak di kabupaten lombok utara ada sebuah keunikan dalam prosesi pernikahan. Pernikahan di lakukan di atas Berugak dan di kelilingi oleh kerumunan masyarkat, apabila pada saat proses ijab kabul pengantin laki-laki membuat suatu kesalahan dalam pengucapan maka seketika itu masyarakat akan bersorak serentak, tak heran prosesi ijab kabul ini kerap kali di ulang sampai tiga kali atau lebih. terkadang walaupun dalam pengucapan ijab kabul tidak terdapat satupun kesalahan para penonton masih tetap bersorak dan serentak mengucapkan tidak sah tidak sah sehingga pernikahan yang sebenarnya sudah sah harus di ulang kembali sampai semua masyarakat berteriak mengucapkan kata sah. Inilah salah satu keunikan yang terdapat di masyarkat Lombok.
BABA II
PEMBAHASAN
1.      Makna Sosiolinguistik “Wetu Telu”
Wetu Telu sarat dengan makna sosiolinguis, islam Wetu Telu selalu mengidentikkan praktek social dan keagamaanya dengan pemaknaan angka tiga. Praktek dan ritual apapun yang di lakukan, selalu berada dalam pemaknaan angka tiga. Berikut merupakan pemaparan makna Wetu Telu menurut versi islam Wetu Telu dan Waktu Lima, yang memiliki pemaknaan yang berbeda dalam mengartikan makna Wetu Telu, dengan berbagai referensi yang ada.
Praktek keagamaan Wetu Telu mendapat nama demikian berdasarkan makna harfiah Wetu Telu yakni waktu tiga.[17] Mereka menafsirkan sebutan ini karna agama Wetu Telu mengurangi dan meringkas hampir semua peribadatan islam menjadi hanya tiga kali saja. Orang waktu Lima menganggap bahwa penganut Wetu Telu hanya melaksanakan tiga rukun islam saja, yaitu mengucapkan syahadat, menjalankan shalat harian dan berpuasa. Mereka meninggalkan rukun ke-empat dan kelima, membayar zakat dan pergi haji.[18] Lebih jauh dalam pandangan waktu lima, penganut wetu telu Cuma melaksanakan shalat tiga kali dalam sehari yaitu subuh, magrib dan isya yang dilaksanakan pada dini  hari, senja dan malam hari. Shalat zuhur dan asar, mereka tidak melaksanakan. Waktu lima juga mengatakan bahwa wetu telu tidak menjalankan puasa sebulan penuh melainkan Cuma selama tiga hari saja, pada permulaan, pertengahan, dan pada penghujung bulan Ramadhan.[19]
Mayoritas orang waktu lima berpandangan bahwa kurang sempurnaya peribadatan islam di kalangan wetu telu seabagian disebabkan karena mereka benar-benar terbenam dalam praktek-praktek adat mereka, terutama pelestarian praktek-praktek kuno pemujaan leluhur yang di turunkan dari generasi ke generasi berikutnya, yang sarat dengan animism dan antroformisme. Tata cara beribadat wetu telu menyerupai peribadatan orang hindu bali. Mereka menunjukkan atribut cultural lain yang memperkuat persamaan penganut wetu telu dengan orang hindu bali adalah caraberpakaian dalam melaksanakan ritual, penyembelihan binatang, acara makan bersama, dan perkawinan dengan cara kawin lari.[20]
Meskipun banyak atribut yang di letakkan oleh waktu lima, untuk mengkarakteristikkan agama wetu telu, penganut wetu telu sendiri punya pemikiran yang berbeda mengenai keyakinan dan peribadatan merek. Islam Wetu Telu mempunyai pandangan hidup yang serba Telu (tiga), seolah-olah angka itu merupakan angka sakral. Inilah salah satu yang membedakan antara Islam Wetu Telu dengan Islam ortodok. Al Syahrastani juga menganggap penting al adat (angka).[21]
Komunitas Waktu Lima menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai waktu tiga (tiga:telu) dan mengaitkan makna ini dengan reduksi seluruh ibadah Islam menjadi tiga. Orang Bayan sebagai penganut terbesar Islam Wetu Telu ini, menolak penafsiran semacam itu. Pemangku Adatnya mengatakan bahwa Wetu berasal dari kata “metu” yang berarti “muncul” atau “datang dari”. Sedangkan “telu” artinya “tiga”. Secara simbolis makna ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul melalui tiga macam sistem reproduksi, yaitu melahirkan (disebut menganak), bertelur (disebut menteluk) dan berkembang biak dari benih (disebut juga mentiuk). Sumber lain menyebutkan bahwa ungkapan Wetu Telu berasal dari bahasa Jawa yaitu Metu Saking Telu yakni keluar atau bersumber dari tiga hal: Al-Qur’an, Hadis dan Ijma. Artinya, ajaran-ajaran komunitas penganut Islam Wetu Telu bersumber dari ketiga sumber tersebut.[22]
Tidak jauh berbeda pendapat Erni Budiawanti (2000)[23] dalam bukunya Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima menjelaskan bahwa, berdasarkan kebiasaan keagamaan mereka, sasak sasak bias di bagi kedalam waktu lima dan wetu telu. Waktu lima di tandai oleh ketaatan yang tinggi terhadap ajaran-ajaran islam. Komitmen mereka terhadap syari’ah lebih besar dibanding wetu telu. Sehari-harinya ibadah mereka ibadah mereka terwujud dalam ketaatan mereka terhadap lima rukun islam. Rukun islam ini adalah shalat lima waktu, puasa, membayar zakat kepada orang yang memerlukan, dan berhaji ke tanah suci Mekkah jika mereka mampu. Kecintaan yang tinggi terhadap praktek-praktek ini maupun terhadap syariat membuat komitmen kurang atau ketaatan mereka pada aturan-aturan adat local menipis. Adat, khususnya yang berlawanan dengan hokum islam. Hanya bagian-bagian tertentu dari adat, terutama yang tidak bertentangan dengan islam yang masih di pertahankan.
Sedangkan wetu telu adalah orang sasak yang meskipun mengaku sebagai muslim, terus memuja roh para leluhur, sebagai dewa roh dan lainya di dalam lokalitas mereka. Dalam kehidupan sehari-hari mereka cenderung mengabaikan praktek keislaman yang rutin dianggap wajib oleh kalangan waktu lima. Adat memainkan peran dominan dikalangan komunitas wetu telu dan dalam beberapa hal, praktek adat bertentangan dengan islam. Meskipun mereka menyadari aturan-aturan adat tertentu, seperti member penghormatan kepada leluhur di kuburan dan memuja roh-roh mereka, jelas berlawanan dengan hokum islam, kalangan wetu telu tidak mengariskan suatu batas yang jelas antara adat dan agama. Karenanya adat sangat bercampur aduk dengan agama local.[24]
Dalam kehidupan bermasyarakat misalnya, sumber hukumnya dibentuk atas dasar tiga perkara yaitu agama, adat dan pemerintah. Oleh karena itu dalam sistem organisasi kemasyarakatan di Bayan mempunyai tiga lembaga yaitu: Pertama lembaga pembantu adat yang menjadi pimpinan tertinggi desa dan biasanya dijabat secara turun temurun. Kedua pembantu pemangku adat yang bertindak sebagai kepala urusan pemerintahan, yang tugasnya menjembatani kepentingan adat dan pemerintah. Ketiga lembaga penghulu yang dijabat oleh seorang kiai. Walaupun mereka mengenal tiga lembaga, seperti tersebut diatas, namun secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan, dengan dipimpin oleh masing-masing petugas.[25]
Menurut Raden Singederia, istilah tiga dalam Islam Wetu Telu tidak ada hubungannya dengan ritualitas keagamaan tetapi pemahaman atas asal usul kejadian manusia. Dia percaya bahwa kelahiran manusia ke atas dunia ini disebabkan oleh adanya tiga sumber, yaitu Tuhan, ayah dan ibu. Dan Wetu Telu sendiri merupakan pengalaman budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari ada atau tidaknya hubungan tiga dalam Islam Wetu Telu dengan upacara agama, tetapi yang jelas penganut Islam Wetu Telu dalam menjalankan upacara selalu bertumpu pada angka tiga atau tiga hal, seperti dalam ibadah, mereka mengenal tiga macam ibadah besar yaitu Loh Langgar, Loh Dewa (Penyembah terhadap Dewa) dan Loh Makam (penyembah terhadap leluhur). Mereka juga hanya melaksanakan tiga macam shalat yaitu shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha dan Shalat Jum’at besar. Jadi makna Telu dalam Islam Wetu Telu mempunyai kaitan dengan asal usul kejadian manusia dan juga erat hubungannya dengan acara ritual keagamaan yang dipercayai dan dilakukan oleh penganut Islam Wetu Telu.[26]
Terkait makna Watu Telu memang tidak terlepas dari filosofi masyarakat adat Bayan yang selalu berpegang teguh pada tiga unsur atau keyakinan, yakni hubungan Tuhan dengan Manusia yang melibatkan para Kyai, Hubungan Manusia dengan Manusia yang melibatkan Pranta-pranata dan sesepuh adat, dan yang terakhir adalah Hubungan Manusia dengan Lingkungan yang diperankan oleh para Toaq Lokaq (para orang tua). Ketiga unsur ini memerlukan dan harus diseimbangkan, karena bagaimana pun juga kalau salah satunya tidak nyambung atau seimbang maka tidak mungkin dapat berjalan dengan baik.[27]
Haji Amir tokoh adat sekaligus tokoh Agama yang juga mantan Kepala Desa Loloan, Bayan, KLU priode tahun 1968-1998, menuturkan, Wetu Telu itu adalah filosofi yang diyakini komunitas adat Bayan yang memiliki arti, makna serta penjabaran yang sangat luas dan mendalam tentang kehidupan manusia, Tuhan dan lingkungannya, yang kesemuanya itu tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya, dimana folosofi ini juga kental dan erat kaitannya dengan ajaran Agama Islam. Wetu Telu juga menggambarkan filosofi tentang “Wet Tau Telu” (tiga bagian wilayah atau sistim Pemerintahan-red) diantaranya, Adat, Agama dan Pemerintah, ketiga unsur ini jika dilihat berdasarkan fungsinya tidak mungkin dapat terpisahkan dimana tugas dan fungsinya juga tidak mungkin dapat disatukan atau disamakan satu dengan yang lainnya”.[28]
Filosofi lain juga meyakini Wetu dan Metu itu yakin adanya Tuhan, Nabi Muhammad Saw, Ibu, Bapak, dan Anak serta menyakini adanya Nabi Adam sebagai manusia pertama yang dilahirkan dan diturunkan kebumi. Kemudian isi bumi atau alam diyakini dilahirkan melalui tiga cara atau tiga unsur, (Metu) yaitu, Tioq (tumbuh), Menteloq (bertelur) dan terakhir melalui proses Beranak. Gambaran lain yang sering diucapakan dalam kehidupan sehari-hari adalah Inaq, Amaq, Allah (Ibu, Bapak dan Tuhan) juga sebagai ungkapan kalau sorga itu berada dibawah telapak kaki ibu, filosofi ini juga masuk dan erat kaitannya dengan ajaran Agama Islama dimana semua ummat Islam harus tunduk dan patuh terhadap ajaran tersebut.[29]
Keyakinan lain juga tergambar dari tiga aspek kehidupan yaitu Air, Agin dan Tanah, ketiga unsur ini juga menjadi dasar utama semua mahluk hidup yang ada dimuka bumi dapat tumbuh, hidup serta berkembang biak, apa bila ketiga elemen ini ada dan dilestarikan.[30]
Ketiga unsur lain tentang makna serta filosofi Wetu Telu yaitu Adanya tiga unsur yang mengayomi dan menuntun serta membina manusia atau masyarakat, yaitu dari Kyai yang berdasarkan keturunan dan memiliki tugas khusus dibidang agama, Tokoh Adat yang mengatur soal adat dan istiadat, dan yang terakir adalah pemerintah yang juga khusus membidangi sistim pemerintahan.[31]
Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa ada Beberapa arti dan makna simbolik secara bahasa Wate Telu, yang mana unsurnya terdiri dari tiga makna, yakni sebagai berikut :
1.      Wetu berarti hukum dan Telu berarti tiga’ Adapun hukum yang ketiga itu yang dimaksud ialah :
Ø  Adat
Ø  Agama
Ø  Pemerintah
2.      Semua makhluk hidup muncul (metu) melalui tiga jenis system yaitu
ü  Mentiuq (berkembakbiak dari benih) seperti tumbuhan
ü  Menteluq (bertelur) seperti unggas
ü  Menganak  (melahirkan) seperti manusia
3.      Keharusan semua makhluk hidup melalui tiga tahapan rangkaian siklus yaitu :
·         Menganak ( dilahirkan)
·         Urip (hidup)
·         Mate ( meninggal dunia )
4.      Kenyataan hidup yang tidak pernah terlepas dari
v  Hari
v  Bulan
v  Tahu

5.      Pengakuan terhadap Tuhan, Adam dan Hawa
6.      Kepercayaan masyarakat terhadap Al – Qur’an, Hadits, dan Ijma para ulama.
D.    Dialektika Islam dan Budaya Sasak
Bahasa Sasak, terutama aksara (bahasa tertulis) nya sangat dekat dengan aksara Jawa dan Bali, sama sama menggunakan aksara Ha Na Ca Ra Ka dst. Tapi secara pelafalan cukup dekat dengan Bali. Menurut ethnologue yang mengumpulkan semua bahasa di dunia, Bahasa Sasak merupakan keluarga (Languages Family) dari Austronesian Malayo-Polynesian (MP), Nuclear MP, Sunda-Sulawesi dan Bali-Sasak.
Sementara kalau kita perhatikan secara langsung, bahasa Sasak yang berkembang di Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, contoh : Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Utara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan).
Agama sasak atau lebih spesifik lagi Islam sasak merupakan cermin dari pergulatan agama lokal atau tradisional berhadapan dengan agama dunia yang universal dalam hal ini Islam. Seperti yang terjadi di Bayan (Lombok), Islam Wetu Telu (Islam Lokal) yang banyak dipeluk oleh penduduk Sasak asli dianggap sebagai “tata cara keagamaan Islam yang salah (bahkan cenderung syirik)” oleh kalangan Islam Waktu lima, sebuah varian Islam universal yang dibawa oleh orang-orang dari daerah lain di Lombok. Islam waktu lima sejak awal kehadirannya disengaja untuk melakukan misi atau dakwah Islamiyah terhadap kalangan Wete Telu.[32]
Beberapa kalangan melihat fenomena Wetu Telu dalam makna yang sama dengan penganut Islam abangan atau Islam Jawa di Jawa, sebagaimana trikotomi yang diajukan Geertz, dan ditulis oleh Mark Woodward. Namun penyebutan Islam Wetu Telu ini disangkal oleh Raden Gedarip, seorang pemangku adat Karangsalah. Menurutnya, Islam hanya satu, tidak ada polarisasi antara waktu tiga (Wetu Telu) dan Waktu Lima. “Sebenarnya Wetu Telu bukan agama, tetapi adat”, ucapnya.  Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa masyarakat adat Wetu Telu ini mengakui dua kalimah syahadat, “Allah Tuhan kami yang kuasa dan nabi Muhammad sebagai utusan Allah”. Dua kalimat syahadat pun diucapkan oleh penganut Wetu Telu ini, Setelah diucapkan dalam bahasa Arab, kata Gedarip, diteruskan dalam  bahasa Sasak, misalnya: “Asyhadu Ingsun sinuru anak sinu. Anging stoken ngaraning pangeran. Anging Allah pangeran. Ka sebenere lan ingsun anguruhi. Setukhune nabi Muhammad utusan demi Allah. Allahhuma shali Allah sayidina Muhammad”. Artinya: “Kami berjanji (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan kami percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Disebut “berjanji” karena diakui sudah menerima agama Islam.[33]
Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural.
Proses komporomi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mugkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Kompromi kebudayaan ini pada akhirnya melahirkan, apa yang di pulau Jawa dikenal sebagai sinkretisme atau Islam Abangan. Sementara di pulau Lombok dikenal dengan istilah Islam Wetu Telu.
Proses islamisasi yang berlangsung di Nusantara pada dasarnya berada dalam proses akulturasi. Seperti telah diketahui bahwa Islam disebarkan ke Nusantara sebagai kaedah normatif di samping aspek seni budaya. Sementara itu, masyarakat dan budaya di mana Islam itu disosialisasikan adalah sebuah alam empiris. Dalam konteks ini, sebagai makhluk berakal, manusia pada dasarnya beragama dan dengan akalnya pula mereka paling mengetahui dunianya sendiri. Pada alur logika inilah manusia, melalui perilaku budayanya senantiasa meningkatkan aktualisasi diri. Karena itu, dalam setiap akulturasi budaya, manusia membentuk, memanfaatkan, mengubah hal-hal paling sesuai dengan kebutuhannya.[34]
Dalam kehidupan msyarakat penganut Islam Wetu Telu dimana dalam agamanya pun tidak lepas dari kebudayaan yang terakulturasi dalam agama yang mereka yakini sehingga terdapat pula ritual-ritual seperti halnya dalam ritual-ritual kepercayaan yang ada dalam menganut Islam waktu lima. Adapun bentuk-bentuk dialektika antara Islam dan Budaya dalam Wetu Telu tersebut yaitu:[35]
Misalkan Adat hidup dan mati: semenejak kelahiran dan kematian terdapat serentetan upacara-upacara yang di jalani oleh islam wetu telu. Didalam kehidupan seseorang terdapat upacara-upacara adat yang memiliki makna bahasa yang rumit tanpa di ketahui secara komplek pemaknaanya, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.      Buang au, artinya secara bahasa adalah upacara kelahiran, sekalipun secara literlek artinya membuang abu. Makna hakikinya adalah upacara pembuangan abu dari arang yang dibakar dukun beranak (belian) setelah membantu persalinan. Upacara ini dilaksanakan kira-kira satu minggu setelah melahirkan. Pada saat itu pula orang tua mengumumkan nama anaknya setelah berkonsultasi dengan pemangku atau kyai mengenai nama yang cocok untuk anaknya. upacara dilaksanakan menjelang seorang bayi berumur 7 hari kemudian langsung diberi nama. Seperti halnya dalam Waktu Lima yang disebut Aqiqah.   
b.      Ngurisan pemaknaan secara bahasa adalah memotong rambut anak, upacara pemotongan rambut yang dilakukan setelah buang au. Upacara ini diadakan untuk seorang anak yang sudah mencapai usia antara 1 sampai 7 tahun. Ngurisang dianggap penting karena setelah ini anak yang menjalaninya disebut selam (Muslim) sebagai lawan dari Boda[36], artinya orang yang belum di-Islam-kan. upacara dilaksanakan apabila anak-anak mencapai umur tiga samapai enam tahun. Hal ini juga dilakukan dalam Islam.
c.       Ngitanang (Khitanan), yang dilakukan saat anak berusia antara 3 hingga 10 tahun. Seperti buang au dan ngurisang, ngitanang juga dipandang sebagai simbol peng-Islam-an. Seorang anak masih tetap Boda sampai ia dikhitan.
d.      Potong Gigi dan Ngawinan, merupakan upacara yang menandai peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Dalam upacara ini pemangku atau kyai menghaluskan gigi bagian depan anak laki-laki dan gadis remaja yang berbaring di berugak (gubug).[37]
Begitu pula dalam peristiwa kematian banyak sekali macam upacara bahkan terjadi pengorbanan yang luar biasa karena dianggap sebagai penghormatan terakhir pada almarhum. Kegiatan upacaranya meliputi: penyelenggaraan jenazah seperti memandikan, megafankan, menyalatkan dan menguburkan. Setelah keempat upacara tersebut selesai kemudian menyusul kegiatan lainnya, berupa upacara sebagai berikut:
a.       Nelung yaitu hari ketiga dari peristiwa kematian
b.      Mituq yaitu hari ke tujuh dari peristiwa kematian.
c.       Nyanga yaitu hari kesembilan dari peristiwa kematian. Pada hari ini diserahkan sebagian harta benda almarhum kepada pihak petugas atau acara ini lazim disebut istilah nyelawat.
d.      Pelayaran, upacara ini dilaksanakan tiap-tiap minggu atau bulan tepat pada hari kematian sesorang.
e.       Matangpulu, nyatus dan nyiu; masing-masing diadakan pada hari yang ke empat puluh, keseratus dan keseribu.
Warna Islam juga ditemukan dalam ritual-ritual yang berkaitan dengan hari besar Islam, yang memiliki persamaan dan perbedaan makna dialek dalam pengucapan antara islam wetu telu dan waktu lima,  seperti:
a)      Rowah Wulan dan Sampet Jum’at
Kedua upacara ini dimaksudkan untuk menyambut tibanya bulan puasa (Ramadlan). Rowah Wulan diselenggarakan pada hari pertama bulan Sya’ban, sedangkan  Sampet Jum’at dilaksanakan pada jum’at terakhir bulan Sya’ban. Tujuannya adalah sebagai upacara pembersihan diri menyambut bulan puasa, saat mereka diminta untuk menahan diri dari perbuatan yang dilarang guna menjaga kesucian bulan puasa. Upacara-upacara ini tergolong unik, karena masyarakat Wetu Telu sendiri tidak melakukan puasa. Yang melaksanakan hanyalah para Kiai, itupun tidak sama dengan tata cara berpuasa yang dilakukan oleh penganut Waktu Lima.
b)      Maleman Qunut dan Maleman Likuran
Maleman Qunut merupakan peringatan yang menandai keberhasilan melewati separuh bulan puasa. Upacara ini dilaksanakan pada malam keenam belas dari bulan puasa. Bila dibandingkan dengan Waktu Lima, pada malam keenam belas dalam pelaksanaan rakaat terakhir shalat witir setelah shalat tarawih disisipkan qunut. Barangkali atas dasar ini kemudian Wetu Telu menyelenggarakan Maleman Qunut.
Sedangkan Maleman Likuran  merupakan upacara yang dilaksanakan pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 bulan puasa. Perayaan tersebut dinamakan maleman selikur, maleman telu likur, maleman selae, maleman pitu likur, dan maleman siwak likur. Pada malam ini masyarakat Wetu Telu secara bergiliran menghidangkan makanan untuk para kyai yang melaksanakan shalat tarawih di masjid kuno. Adapun pada malam ke-22, 24, 26, dan 28 dirayakan dengan makan bersama oleh para kyai. Perayaan ini disebut sedekah maleman likuran.
c)      Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi
Maleman Pitrah identik dengan saat pembayaran zakat fitrah di kalangan Waktu Lima. Hanya saja dalam tradisi Wetu Telu terdapat sejumlah perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya dengan Waktu Lima. Dalam tradisi Wetu Telu, maleman Pitrah merupakan saat dimana masing-masing anggota masyarakat mengumpulkan pitrah kepada para kyai yang melaksanakan puasa dan hanya dibagikan di antara para kyai saja. Bentuk pitrahnya pun berbeda. Dalam ajaran Waktu Lima, yang juga mentradisi di kalangan Islam pada umumnya, zakat fitrah hanya berupa bahan makanan dengan jumlah tertentu dan hanya dikeluarkan untuk orang-orang yang hidup. Dalam tradisi Wetu Telu, Pitrahnya berupa makanan, hasil pertanian, maupun uang, termasuk uang kuno, dan berlaku baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Untuk yang masih hidup Pitrah itu disebut Pitrah Urip, sedangkan untuk yang sudah meninggal disebut Pitrah Pati.
Sedangkan Lebaran Tinggi identik dengan pelaksanaan hari raya Idul Fitri bagi penganut Waktu Lima. Bedanya, dalam upacara Lebaran Tinggi diadakan acara makan bersama antara pemuka agama dan pemuka adat, serta masyarakat penganut Wetu Telu.
d)     Lebaran Topat
Lebaran Topat diadakan seminggu setelah upacara Lebaran Tinggi. Dalam perayaan ini, seluruh Kyai dipimpin Penghulu melakukan Sembahyang Qulhu Sataq atau shalat empat rakaat yang menandai pembacaan surat Al-Ikhlas masing-masing seratus kali. Lebaran Topat berakhir dengan makan bersama di antara para kyai. Dalam perayaan ini, ketupat menjadi santapan ritual utama.
e)      Lebaran Pendek
Lebaran Pendek identik dengan pelaksanaan hari raya Idul Adha di kalangan Waktu Lima. Pelaksanaannya dilakukan dua bulan setelah lebaran topat. Dimulai dengan shalat berjamaah di antara para Kyai disusul acara makan bersama dan setelah itu dilanjutkan dengan pemotongan kambing berwarna hitam.
f)       Selametan Bubur Puteq dan Bubur Abang
Upacara Selametan Bubur puteq dan bubur abang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan 8 Safar menurut penanggalan Wetu Telu. Upacara ini untuk memperingati munculnya umat manusia dan beranak pinaknya melalui ikatan perkawinan. Bubur puteq (bubur putih) dan bubur abang (bubur merah) merupakan hidangan ritual utama yang dikonsumsi dalam upacara ini. Bubur putih melambangkan air mani yang merepresentasikan laki-laki, sedangkan bubur merah melambangkan darah haid yang merepresentasikan perempuan.
g)      Maulud
Dari penyebutannya, terkesan bahwa upacara ini terkait dengan upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, sebagaimana dilaksanakan oleh Waktu Lima. Kendati waktu pelaksanaannya sama, yakni pada bulan Rabi’ul Awal, Wetu Telu merayakannya untuk memperingati perkawinan Adam dan Hawa. Seperti upacara-upacara lainnya, berdo’a dan makan bersama ditemukan dalam upacara ini.
BAB III
PENUTUP
E.     kesimpulan
Islam Wetu Telu merupakan suatu kepercayaan masyarakat lombok. Asal usul terbentuknya Islam Wetu Telu di bayan sampai saat ini juga masih merupakan misteri, kapan dan siapa yang menamakannya pertama kali. Islam Wetu Telu terbentuk bersamaan dengan penyebaran Islam di Lombok. Sebelum tuntas mengajarkan Islam, penyebarnya (wali atau muridnya) dengan sebab yang tidak diketahui meninggalkan Lombok, akibatnya masyarakat yang masih menganut agama Hindu dan Animisme tidak sepenunhnya mampu menyerap ajaran Islam. Maka mereka memadukan Animisme, Hindu dan Islam menjadi satu. Perpaduan inilah yang kemudian disebut dengan Islam Wetu Telu. Sesungguhnya penganut Islam Wetu Telu itu sebelah kakinya di Islam dan sebelah lagi Hindu dan Animisme.
Penyebutan istilah Wetu Telu mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Komunitas Waktu Lima menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai waktu tiga (tiga:telu) dan mengaitkan makna ini dengan reduksi seluruh ibadah Islam menjadi tiga. Orang Bayan sebagai penganut terbesar Islam Wetu Telu ini, menyatakan bahwa wetu telu bermakna semua makhluk hidup muncul melalui tiga macam sistem reproduksi, yaitu melahirkan (disebut menganak), bertelur (disebut menteluk) dan berkembang biak dari benih (disebut juga mentiuk).
Dialektika Islam dan Budaya Sasak meliputi beberapa hal seperti: Adat hidup dan mati terdapat upacara-upacara adat sebagai berikut: Buang au (Aqiqah dalam Islam Waktu Lima), Ngurisan dan Nyunatan, Potong Gigi dan Ngawinan. Peristiwa kematian penyelenggaraan jenazah seperti memandikan, megafankan, menyalatkan dan menguburkan. Dilanjutkan dengan upacara Nelung, Mituq, Nyanga, Pelayaran, Matangpulu, nyatus dan nyiu (diadakan pada hari yang ke empat puluh, keseratus dan keseribu).
 
DAFTAR PUSTAKA
-          Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000).
-          Khadziq, Islam Dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009).
-          Rasmianto,  Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, (Malang: UIN Malang, 2009).
-          David Hume, A Ttretise of Human Nature, (Oxford: The Calrendon Press, 1951).
-          Fawaizul Umam, dkk, Membangun Resistentsi Merawat Tradisi Modal Sosial Komunitas wetu telu ( Mataram: LKIM  IAIN M ataram, 2006).
-          Bustanudin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007).
-          Syahrastani. 1968. Al-Milal wa al-Nihal. Juz I. tp.( 1968)
-          Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan: akulturasi nilai-nilai Islam dalam Budaya sasak (Yogyakarta: Adab Press, 2006).
-          Jhon Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearipan Masyarakat Sasak, ter. Imron Rosyidi (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001).
-          Edelwish. Islam Wetu Telu. http://agyuz.student.umm.ac.id/2010/08/26/islam-wetu-telu/ diakses pada 08 Juni 2013
-          http://wikipedia.islam-sasak.com diakses pada 08 Juni 2013 pukul 09.00 WIB
-          http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.


[1] Khadziq, Islam Dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009), 42-43.
[2] Rasmianto,  Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, (Malang: UIN Malang, 2009), hal. 138
[3] http://wikipedia.islam-sasak.com diakses pada 08 Juni 2013 pukul 09.00 WIB
[4] David Hume, A Ttretise of Human Nature, (Oxford: The Calrendon Press, 1951), hlm. 15.
[5] Rasmianto. Op, Cit. hal. 141-142
[6] Edelwish. Islam Wetu Telu. http://agyuz.student.umm.ac.id/2010/08/26/islam-wetu-telu/ diakses pada 08 Juni 2013
[7] Masyarakat Lombok pada umumnya menyebut komunitas wetu telu sebagai “waktu tiga” karena konon komunitas ini melaksanakan ritual shalat hanya tiga kali atau tiga waktu.
[8] Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm. 29.
[9] Fawaizul Umam, dkk, Membangun Resistentsi Merawat Tradisi Modal Sosial Komunitas wetu telu ( Mataram: LKIM  IAIN M ataram, 2006), hlm. 86.
[10] Sebenarnya antara ngayo dan midang adalah dua term yang mengandung satu makna. Saat ini erm midang kebanakan di konotasikan khusus pada kunjungan antara  dua orang muda-mudi yang ingin menikah. Degan bahasa lainya, midang diarikan sebagai salah satu cara untuk mencari pasangan hidup.
[11] Tuak adalah salah satu jeniis minuman ang memabukkan yang erbuat dari air pohon aren (sasak: lolon nau)
[12] Berem, juga termasuk salah satu minuman yang memabukkan, bahkan jauh lebih berkualitas dari minuman jenis pertama. Berem terbuat dari sari pati atau hasil dari perasan tape ketan yang kemudian di simpan dalam jangka waktu lama setelah disaring terlebih dahulu.
[13] Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan: akulturasi nilai-nilai Islam dalam Budaya sasak (Yogyakarta: Adab Press, 2006), hlm. 187.
[14] Jhon Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearipan Masyarakat Sasak, ter. Imron Rosyidi (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hlm. 172.
[15] Nyelabar adalah istilah untuk proses pemberitahuan kepada keluarga si gadis.
[16] Ketua adat atau dusun setempat
[17] Secara harfiah wetu berarti waktu, telu berarti tiga.
[18] Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm. 134.
[19] Ibid. hlm 124.
[20] Ibid. hlm 125.
[21] Syahrastani. 1968. Al-Milal wa al-Nihal. Juz I. tp.( 1968), hlm. 35.
[23] Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm. 136.
[24] Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm. 8.
[25] Rasmianto, el-Harakah, Vol.11, No. 2, Tahun 2009
[26] Rasmianto, el-Harakah, Vol.11, No. 2, Tahun 2009.
[27] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.
[28] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.
[29] Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm. 170.
[30] Ibid,,, hlm.231.
[31] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-b/ayan-lombok-utara/.
[32] Khadziq, Islam Dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009), 97.
[34] Erni Budiwanti, Islam Sasak. Wetu telu versus waktu lima.(Yogyakarta: LKiS, 2000), 290.
[35] Rasmianto,  Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, (Malang: UIN Malang, 2009), hal. 146
[36] Merupakan agama orang sasak sebelum datangnya islam ke Lombok. Ajaran ini selalu di identikkan dengan pemujaan (animism).
[37] http://id.wikipedia.org/wiki/Sembahyang_Waktu_Telu.