Curhat

malioboro

malioboro
Malioboro Street

Label

Tampilkan posting dengan label SASAK. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label SASAK. Tampilkan semua posting

Jumat, 13 Juni 2014

PERKAWINAN ADAT SASAK



I. ARTI DAN MAKNA MERARIQ

Masyarakat Etnis Sasak dalam proses mengembangkan keturunan melalui proses perkawinan yang disebut dengan istilah “ Merariq”. Kata “merarik” berasal dari kata dasar “ariq” yang berarti “adik” , dengan tambahan awalan “me” berubah menjadi kata kerja yang berarti “ memperadik”.

Makna Merariq adalah sebuah proses dimana seorang laki-laki menjadikan seorang wanita sebagai pasangan hidup untuk tujuan melanjutkan keturunan keluarga.

II. PROSES PRA MERARIQ

Untuk menuju ke jenjang Merariq dua calon mempelai melalui tahapan sesuai dengan tradisi Masyarakat Adat Sasak ( MAS ) sebagai berikut ;

• SALING KENAL : Perkenalan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang disengaja ada juga secara tidak sengaja, bahkan ada yang direkayasa oleh pihak keluarga didasarkan dorongan keinginan orang tua ingin melihatnya berjodoh dengan misan atau sepupunya.

Pada umumnya perkenalan muda-mudi (teruna-dedare) berkenalan pada saat adanya kegiatan “begawe” ( pesta adat) ; gawe rowah (kenduri) atau gawe saur sangi ( selamatan bayar nazar ), di keramain hiburan / tontonan, saat ke pasar, atau saat pengolahan petanian.

Dedare Sasak apabila keluar rumah biasanya ditemani orang tua atau keluarga atau orang dekat yang dipercaya oleh keluarga. Pendamping ini berfungsi sebagai penghubung disebut dengan “Subandar”.

Pada saat sang laki-laki menaruh hati sebagi tanda simpati ia akan memberikan bingkisan kecil seperti; makanan ringan, sabun mandi, sapu tangan, alat kosmetik dll, benda-benda ini dinamakan “pembugi” . Setelah pembugi diterima maka ia boleh datang bertandang kerumah sang gadis yang dalam istilah Sasak disebut dengan “Midang”.

• MIDANG : atau bertandang ke rumah sang gadis ini boleh dilakukan oleh siapa saja yang menghendakinya menjadikannya kelak sebagai pasangan hidupnya. Midang memiliki tata krama yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dalam masa pemidangan ini semua memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan hati sang gadis dalam menentukan pilihan hidupnya.

Pelanggaran tata krama pemidangan dapat berakibat fatal, karena salah satu dari laki-laki yang datang midang akan tersinggung dan merasa harga dirinya dilecehkan.

• MEREWEH dan BEJAMBEQ : “Mereweh” dan “Bejambeq” adalah sebuah peristiwa dimana seorang pria dan gadis menentukan pilihan hatinya di hadapan umum. Kegiatan ini dilakukan pada saat dilaksanakan “gawe adat” dimana dalam persiapan pesta tersebut sederetan perempuan duduk bersama subandarnya. Sederetan laki-laki di sisi lainnya menyiapkan sejumlah barang-barang persembahan; seperti buah-buahan, pakaian, perhiasan, kosmetik dll sebagai persembahan kepada gadis yang diinginkannya ditancapkan bendera kecil yang diberi nama sang gadis idamannya. Bingkisan ini kemudian di antar oleh sang subandar, dan jika diterima maka bermakna bahwa sang gadis telah menentukan bahwa lelaki yang memberikan “Pereweh” (bingkisan) sebagai calon pasangannya.

Selanjutnya sang gadis memberikan “Pejambik” (suguhan) sebagai balasan. Dengan adanya proses Mereweh dan Pejambeq ini bermakan kedua pasangan sudah mengikat diri dalam satu pilihan pasangan, tidak diperkenakan untuk mencari pria atau gadis lain sebagai calon pasangan hidupnya kelak.

• NENARI : “Nenari” berasal dari kata “tari” atau memikat, adalah sebuah proses yang dilakukan pihak pria untuk menentukan kesanggupan sang gadis untuk diperistri. Proses ini dilakukan dengan perantaraan subandar untuk menentukan kapan waktu yang disanggupi untuk “merariq”.

Dalam tahap ini biasanya disertai dengan pemberian berbagai macam hadiah kepada si gadis. Semua pemberian ini harus disaksikan oleh Subandar, karena jika terjadi sang gadis diperistri oleh orang lain maka ia harus mengembalikan semua pemberian tersebut.

• MELAIQ: “ Melaiq” adalah proses dimana sang pria menjemput sang gadis dari rumahnya untuk tujuan “merarik” dilakukan pada waktu malam hari sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat bersama. Dalam proses ini sang lelaki tidak melakukannya sendiri dibantu oleh orang dipercaya untuk membawa sang gadis ketempat persebunyian (Sasak; Pesebo’an).

Tempat persembunyian ini adalah tempat yang dianggap netral merupakan tempat perlindungan. Masyarakat sekitar wajib melindungi hak-hak adat kedua calon mempelai dan keamanan dari sang gadis dari gangguan pihak lain atau keluarga yang tidak setuju.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi konflik langsung antara pihak keluarga perempuan dan pihak keluarga laki-laki posisi tempat “pesebo’an” dalam hal ini sebagai penengah.

III. BEBERAPA CARA “MERARIQ” DALAM MASYARAKAT SASAK

Merariq adalah lembaga yang bertujuan membentuk sebuah rumah tangga bahagia melanjutkan trah/keturunan keluarga Etnis Sasak, beberapa cara merarik yang kita dapati dalam masyarakat Sasak ada yang Patut/Sesuai dibenarkan secara adat dan ada juga yang tidak dibenarkan secara adat. Cara-cara yang tidak sesuai dengan adat termasuk dalam pelanggaran adat yang oleh masyarakat adat diberikan sangsi berdasarkan besar kecil kesalahannya. Sejumlah cara Merariq yang kita temukan seperti ;

• MELAIQ : Adalah kesepakatan kedua calon mempelai untuk menjadi pasanga suami istri dengan cara mengambil dari rumahnya pada malam hari ( sesuai penjelasan di atas ). Proses ini dilanjutkan dengan tata cara yang ditentutukan dalam adat yakni :

1. Mesejati : Menegaskan bahwa kepada “keliang” (pemangku adat) bahwa di wilayahnya telah diambil sang gadis untuk tujuan Merariq.

2. Nyelabar : Mengabarkan kepada keluarga dan masyarakat bahwa telah terjadi proses “merarik” si anu dari keluarga si anu dengan pria anu dari maysarakat adat anu…..,

3. Nuntut Wali Nikah: Memohon untuk diberikan wali nikah.

4. Rebaq Pucuk : Menyanggupi beban biaya yang ditangung oleh pihak pria untuk pelaksanaan “ Gawe adat”.

5. Baet Bande ; Menentukan kesediaan pihak perempuan untuk menerima pihak laki dalam menentukan hari penyelesaian proses adat Sorong-Serah dan Nyongkolan.

6. Sorong Serah Aji Krama : Upacara Adat Penentuan Status Perkawinan “Merarik” secara hukum adat.

7. Nyongkol : Prosesi silaturrahmi masyarakat adat dari kedua belah pihak keluarga mempelai ditandai dengan sebuah karnaval budaya yang mengantar sang mempelai untuk berkunjung ke- orang tua pihak perempuan sebagai simbul bahwa kedua kedua keluarga besar telah dipersatukan oleh sebuah perkawinan dan tangung jawab pengasuhan pribadi dan sosial diserahkan pada pihak laki-laki.

8. Bales Nae/ Nyoso : Adalah sebuah proses silaturrahmi yang dilakukan oleh keluarga perempuan ke keluarga laki-laki untuk saling mempererat tali kekeluargaan dan saling memafkan jika dalam proses yang berlangsung ada kekurangan.

• MEMADIK: Disebut juga dengan “belako” (meminta / melamar) . Perkawinan ini dalakukan jika kedua calon mempelai ada dalam satu rumpun pertalian darah. Misalnya masih ‘misan” atau “ sepupu “ dari garis keturunan laki-laki.

• PERONDONG : Ikatan perkawinan dengan cara memperjodohkan antara perjaka dan gadis yang telah menjalin cinta dan disetujui oleh pihak keluarga. Ikatan ini dilakukan oleh kedua orang tua calon mempelai untuk tujuan tertentu.

• KAWIN TADONG : Sistim perkawinan yang dilakukan atas dasar rasa khawatir seorang anak perempuan disenangi oleh penjajah sehingga dilakukan perjodohkan meskipun pada saat itu anak belum AQIL BALIQ. Peristiwa ini pernah terjadi pada jaman penjajahan Jepang.

• KAWIN GANTUNG : Adalah sebuah ikatan perjanjian yang dilakukan oleh calon mempelai agar kelak perjodohannya bisa berlangsung. Hal ini dilakukan pada saat keduanya harus berpisah karena melanjutkan studi atau bekerja merantau ketempat yang cukup jauh.

• MENEKEN : Perjodohan ini dilakukan dengan memberikan selembar tikar dan sebuah bantal yang dilakukan oleh pihak perempuan kepada laki-laki-laki yang telah menjalin cinta dengan dirinya. Dengan simbul benda di atas si perempuan boleh meminta kepada keluarganya untuk dinikahkan dengan pria idamannya.

• NGUKUH/NGEKEH: Perjodohan ini dengan memberikan “pemaje” ( pisau kecil / runcing ) dan atau “ Pelocok” ( alat tumbuk sirih ), kepada orang tua sang gadis sebagai simbul penyerahan dirinya untuk dinikahkan dengan perempuan idamannya.

• PERUPUT: Cara perkawinan ini dilakukan untuk menutup “aib keluarga” jika telah terjadi hubungan diluar nikah yang dianggap tabu sehingga harus dilakukan pernikahan. Terlebih jika sang perempuan telah “hamil” maka harus dikawinkan segera. Jika laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab melarikan diri maka akan dicarikan laki-laki yang mau menikahinya demi untuk menutup “aib keluarga”.

Cara-cara merarik yg tidak dibenarkan dalam adat ;

• NGOROS : Mengambil di jalan atau tempat umum
• MURUGUL : Melakukan hubungan badan sebelum nikah.
• BESEGAU : Menggoda/merebut istri orang .
• BALEGANDANG : Merampas di saat sang gadis dalam proses Merarik dengan orang lain.

IV. KEARIFAN LOKAL DALAM PENYELESIAN SENGKETA MERARIK

• SALING AJININ : Memberikan beban dan tanggung jawab yang seimbang, berat –ringan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak untuk menjaga citra/harga diri kedua keluarga dihadapan masyarakat. Semua kesepakatan adat dilaksanakan pada saat tahapan “rebak pucuk”, cacat cela dalam proses perkawinan tidak lagi disebutkan pada saat “ sorong serah aji krama”.

• KETRIMEN: Disebut juga dengan “ketampen” ( diterima) , bila strata sosial dari pihak laki-laki berada di bawah derajat istrinya maka mereka atas kebijakan keluarga laki-laki diberikan wali untuk menikah karena masih mempertimbangkan bahwa masih seiman/seagama. Acara “bejango” / kunjungan keluarga biasanya dilakukan secara terbatas oleh keluarga dekat lakilaki.

• KAPAICA : Bila perkawinan yang terjadi tidak sekupu kebangsaannya dan agamanya, pihak keluarga perempuan tidak setuju maka pihak keluarga perempuan akan mengirimkan orang lain sebagai wakil untuk menyelesiakan pernikahan dan adat.

• KAHAMBIL/TEGADINGAN : Adalah pihak sebuah perjodohan oleh orang tua wanita karena sangat berharap memiliki seorang anak laki-laki . Semua kebutuhan dari upacara pernikahan dan kebutuhan hidup dijamin oleh pihak perempuan. Dalam istilah Sasak disebut dengan “ idepan te nganak mame “ . ( Sebagaimana memiliki anak laki-laki )

• KEPANJING: Perkawinan ini dilakukan jika antara kedua belah pihak, laki dan perempuan tidak mendapat titik temu sedangkan perkawinan tidak boleh dibatalkan. Masing-masing pihak bersikokoh tidak ketemu kemufakatan adat, permasalahn ini di diserahkan kepada Pengemong Adat Desa ( Kepala Desa ) dalam Sidang Krama Desa.

V. PENUTUP

Demikian makalah sederhana ini kami susun untuk memberi gambaran secara umum mengenai sistim perkawinan dalam Masyarakat Adat Sasak “Merarik”. Kami menyadari bahwa tulisan ini juh dari kesempurnaan maka dengan sangat terbuka kami menerima saran perbaikan demi kesempurnaan dan kesamaan pandang kita dalam mendukung adat budaya yang kita cintai. Kami tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak penyelenggara pertemuan yang sangat penting dan strategis ini.

Senin, 17 Juni 2013

Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima


BAB I
PENDAHULUAN
Di Indonesia, salah satu komunitas masyarakat muslim yang dapat menggambarkan bagaimana pergumulan islam, tradisi   dan modernitas berlangsung adalah komunitas wetu telu. Masyarakat wetu telu merupakan bagian dari masyarakat sasak Lombok yang sampai saat ini mengaku memeluk agama islam dan sangat ketat dalam menerapkan tradisi atau adat yang telah diwarisi turun temurun.  Terdapat pandangan yang menyebutkan bahwa wetu telu berartti “waktu tiga”[1] Erni Budiwanti menyebutkan bahwa wetu telu  merupakan agama tradisional, dibedakan dengan islam waktu lima yang merupakan agama samawi.[2]. kelompok wetu telu juga konon masih mempercayai adanya kekuasaan roh nenek moyang para leluhur mereka.[3] Yang dijadikan sebagai penghubung antara mereka dan roh leluhur adalah para mangku atau pemangku adat (tokoh adat). Sedangkan yang dianggap sebagai penghubung dengan tuhan adalah para kiyai adat atau penghulu. Oleh karna itu mereka tidak melaksanakan ajaran agama secara  utuh karena menurut mereka sudah diwakilkan kepada para kiyai atau penghulu.
                Kata tradisi merupakan serapan dari kata tradition (bahasa inggris). Dalam bahasa arab dikenal istilah “truats” yang berasal dari unsure-unsur huruf war a tsa yang dalam kamus klasik disepadankan dengan kata-kata irts, wirts, dan imirats. Kesemuanya merupakan benuk masdar (verbal noun) yang menunjukkan arti segala yang diwarisi manusia dari orang tuanya (nenek moyangnya). Jadi tradisi dapat dimaknai sebagai  akta keterjalinan cultural yang diberikan secara langsung dan diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.[4] Secara sederhana tradisi kemudian dapat dimaknai dengan “sesuatu yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini”.[5] Maka definisi yang lengkap mengenai tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada pada masa kini, belum dihancurkan, dirusak, dibuang, atau dilupakan.

 BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang kaya dengan beragam suku dan budaya,yaitu sekitar 300 suku bangsa. Setiap suku memiliki keunikan masing-masing. Seperti suku Suku Tengger yang berada di sekitar Gunung Bromo (Jawa Timur), Suku Baduy yang terletak di wilayah Kabupaten Lebak, (Banten), suku Dayak yang merupakan suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan dan masih banyak suku- suku lainnya yang besar maupun yang kecil.
Diantara suku-suku diatas, disini kita akan membahas tentang suku Sasak yang hidup di Pulau Lombok yang tinggal di dusun Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sekitar 80% penduduk pulau ini diduduki oleh Suku Sasak dan selebihnya adalah suku lainnya, seperti suku mbojo (bima), dompu, samawa (sambawa), jawa dan hindu (Bali Lombok). Suku Sasak adalah suku terbesar di Propinsi yang berada di antara Bali dan Nusa Tenggara Timur. Suku Sasak masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi suku ini sebagian besar memeluk agama Islam
Umumnya, kepala keluarga suku ini bekerja sebagai petani, sedangkan kaum wanitanya memiliki sambilan sebagai penenun kain. Hasil Tenunan dipajang di teras rumah atau di gazebo yang ada di sekitar rumah. Para wisatawan bisa berkeliling menyusuri lorong kecil dari rumah ke rumah untuk melihat hasil tenun sambil melihat rumah adat suku Sasak yang disebut bale tani. Keunikan dari rumah adat suku Sasak adalah lantai yang dibuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, dan kulit padi. Menurut mereka, campuran tersebut lebih kokoh dibandingkan semen biasa dan memiliki arti tersendiri. Tanah menggambarkan dari mana manusia berasal. Sedangkan kotoran kerbau menggambarkan kehidupan mereka sebagai petani yang sangat memerlukan kerbau untuk membajak sawah. Dari Pemaparan diatas, nampak jelas terlihat banyak sekali hal yang perlu kita ketahui secara mendalam tentang Suku Sasak, sehingga dapat memperluas khasanah keilmuan dan untuk lebih memahami bahwa indonesia mempunyai berbagai suku dan adat istiadat masing-masing sehingga kita mempunyai bekal untuk manentukan sikap dan jalan apa yang paling tepat untuk menyikapinya.
BAB II
Pembahasan
Komunitas Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat merupakan Suku terbesar di Propinsi yang berada di antara Bali dan Nusa Tenggara Timur ini. Menurut catatan sensus yang diadakan tahun 1989, populasi suku sasak mencapai 2,1 juta jiwa. Pada Sensus berikutnya, tepatnya tahun 2000 populasinya bertambah menjadi 2,6 juta jiwa. Tahun 2008 diperkirakan populasi Suku Sasak yang tinggal di Lombok sekitar 3 juta jiwa, jumlah itu belum termasuk sasak diaspora alias sasak rantau yang menetap di Pulau Sumbawa bagian Barat, di Kalimantan Timur (akibat proyek transmigrasi), di Malaysia (TKI) dan di beberapa Kota besar di Indonesia (yang umumnya karena faktor pekerjaan dan status sebagai Mahasiswa). Di Samping itu dalam jumlah kecil, Suku Sasak tersebar di beberapa Negara di dunia ini. Melihat hal ini Populasi Komunitas Suku Sasak bisa dikatakan cukup besar dan layak disandingkan dengan etnis lain di Indonesia. Ada hal yang sangat menarik dari pembahasan suku sasak ini, yaitu adanya pengelompokan suku sasak menjadi dua kelompok yaitu kelompok wetu telu dan kelompok wetu lima. Dari kedua kelompok ini nampak jelas sekali perbedaannya.

Bahasa merupakan sistem tanda bunyi yang disepakati untuk di pergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi daan mengidentifikasi diri. 
Memperbincangkan islam, tradisi dan modernitas selalu menarik dan kerap kali mengundang banyak tanya. Tidak hanya menyangkut persoalan-persoalan teoritis, namun juga menyangkut ranah aplikatif praktis di lapangan. Tiga entitas ini yakni islam, tradisi dan modernitas oleh para teoritis sosial selalu didudukan berhadap-hadapan, vis a vis satu sama lain. Ketiganya selalu di posisikan pada posisi diktomis, yang mengakibatkan ketiganya jarang sekali bisa bersanding dalam satu pelaminan.
Di indonesia, salah satu komunitas masyarakat muslim yang dapat menggambarkan bagaimana pergumulan islam, tradisi dan modernitas berlangsung adalah komunitas wetu telu  
Munculnya beragam konsepsi  teologi tidak bisa lepas dari keberadaan manusia sebgai pelaku sejarah, pemikiran yang dipengaruhi oleh sosiokultural dan historitas peradaban manusia itu sendiri. Seberapa besar penting pengaruh manusia daam berbagai bidang keilmuan dan kehidupan, David Hume mengatakan, bahwa semua ilmu pengetahuan berhubungan kodrat manusia, matematika, filsafat, metafisika, dan agama kodrati (natural reigions).[6]

 
BAB II
ASAL-USUL NAMA SASAK LOMBOK 
A.    ASAL NAMA SASAK DAN LOMBOK 
Sasak dan Lombok memiliki arti yang beraneka ragam.Adapun arti Sasak dan Lombok dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Sumber lisan: Sasak, karena zaman dahulu ditumbuhi hutan belantara yang sangat rapat.
2.      Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan0020PengembanganBahasa : Sasak diartikan buluh bambu atau kayu yang dirakitmenjadi satu.
3.      Kitab Negarakertagama (Decawanana): Sasak dan Lombok dijelaskan bahwa Lombok Barat disebut Lombok Mirah danLombok Timur disebut Sasak Adi.
4.      Dr. C.H. Goris: "Sasak berasal dari bahasa Sansekerta (Sak = pergi dan Saka = asal).  Jadi orang Sasak adalah orang yangmeninggalkan negerinya dengan menggunakan rakit sebagai kendaraannya. Orang yang pergi tersebut dimaksudkan adalah orang Jawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya silsilah para bangsawan dan juga hasil sastra digubah dalam bahasa Jawa Madya dan berhuruf Jejawan (huruf sasak) ".
5.      Ditjen Kebudayaan Provinsi Bali: "Di Pujungan Tabanan Bali terdapat sebuah tongtong perunggu yang dikeramatkan bertuliskan "Sasak dana prihan, srih javanira ". Tongtong itu ditulis setelah Anak Wungsu, sekitar abad ke- 12M.
6.      Dalam abad Sang upati: "Lombok terkenal dengan nama PulauMeneng (sepi) ".
7.      Steven van der Hagen: "Pada tahun 1603di Labuan Lombok  banyak beras yang murah dan hampir setiap hari dikirim ke Balis ehingga pelabuhan Lombok dipopulerkan menjadi Lombok. Sampai akhir abad ke-19, pulau Lombok terkenal dengan nama Selaparang. Kerajaan ini semula bernama Watu Parang kemudian berubah menjadi Selaparang. Dalam suatu memoar tentang kedatangan Gadjah Mada di Lombok, waktu itu pulau Lombok disebut Selapawis (bahasa kawi: sela berarti batu dan pawis berartiditaklukan). Jadi Selapawis berarti batu yang ditaklukan.
B.     SASAK DAN LOMBOK SEBUAH SATU KESATUAN
Sasak dan Lombok mempunyai kaitan yang erat sehinggatidak dapat dipisahkan. Keduanya terjalin menjadi satu yang berasaldari kata Sa'sa'Loombo. Kata sa' artinya satu, dan lombo' artinya lurus. Dengan demikian, Sasak Lombok berarti satunya lurus atau"satu-satunya kelurusan". Selanjutnya dijelaskan arti dan makna Sasak Lombok ditinjaudari beberapa segi, antaralain:
1.      Segi Bahasa.Bahasa sasak sangat sederhana, paling banyak hanya terdiridari dua suku kata. Cukup dengan menambahkan kata "timur" atau "barat", dan "utara" atau "selatan". Contoh, mamben lauq, mambendeye. Kemudian apabila di tempaf itu berdiri sebuah pohon, misalnya pohon asam, maka dusun yang dicarikan nama itu, cukup dinamakandengan "Dasan Bagik" (bagik = asam),
2.      Segi keyakinan dan bermasyarakat. Suku Sasak bersandar pada Sa'sa' Lombo', sebagai sesuatuyang diyakini.  Hal ini berpengaruh positif dalam hidup dankehidupannya. Adapun sikap-sikap yang dimaksudkah dalam hidup beragama yaitu:
a.       Penyerahan diri kepada Tuhan (Tauhid). "aninya orang yang 
b.      Taat kepada Tuhan.
c.       Taat kepada pemerintah.
d.      Taat kepada orang tua.


2. belakangan ini, intentitas kajian tentang simbol keagamaan mulai berkembang. Semenjak pasca p.erang dunia pertama, para surealis mencoba mengakrabkan orang-orang terdidik dengan dunia non-figuratif  dan dunia mimpi yang imajinatif.nnamun dunia tersebut hanya dapat terungkap maknaya ketika diuraikan dan difahami strukturnya yang bersifat simbolis.[7]
            Kajian simbol keagamaan, hendaknya dinisbatkan pada riset para filosof, epistemologi dan para linguist tertentu yang hendak menunjukkan sifat-sifat simbol, tidak hanya dalam perspektf etimologis, akan tetapi juga keseluruhan aktivitas rohani manusia, mulai dari ritus, mitos, seni hingga ilmu pengetahuan, sehubungan dengan kemampuan yang dimiliki manusia untuk membuat simbol-simbol tersebtut.[8]  
            Kaianya dengan kelompok wetu telu, dimana simbol-simbol keagamaan memegang peranan yang cukup prinsip, karenanya studi tentang   simbol keagamaan yang ada padanya merupakan suatu hal yang tidak hanya menarik, namun juga urgen. Simbol dalam keagamaan wetu telu merupakan bagian yang idak dapat dileraikan darinya.
            Penganut wetu telu adalah orang sasak yang meskipun  mengaku sebagai muslim, tetapi terus memuja roh para leluhur dan berbagai dewa, ang berada dalam lokaisasi mereka. Daam kehidupan sehari-hari mereka cenderung mengabaikan ritual-ritual keagamaan (islam, hindu, dan budha). Adat memainkan peran yang sangat dominan, dan hirarki sosial kemasyarakatan sangat tampak setara memberi pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan bermasyarakat.[9]
            Penganut wetu telu, memiliki 3 sumber hukum: agama, adat, dan pemerintah. Oleh karna itu, dalam struktur kemasyarakatan, mereka memiliki 3 lembaga :
1.      Lembaga pembantu adat, yang berperan sebagai pemimpin tertinggi desa dan biasanya dijabat secara turun temurun.
2.      Pembantu pemangku adat, yang berindak sebagai kepala urusan pemerintahan, dimana tugasnya menjembatani kepeningan-kepentingan adat dan pemerintah.
3.      Lembaga penghulu, yang dijabat oleh seorang kiyai.[10]
4.       
a.       Lingkungan sosial wetu telu
Penganut wetu telu umumnya tergolong masyarakat yang masih murni, belum terpolarisasi dengan ide-ide globalisasi maupu modernisasi. Budaya mereka masih asli, belum terjamah budaya kontemporer, termaksuk masyarakat ang masih suci bain dan perbuatanya, yang akan selalu berbuat baik menurut ada istiadat nenek moyang dan leluhur mereka. Tidak suka mencuri, berbohong dan berbagai macam perbuatan yang merugikan orang ain. Mereka rata-rata lurus dan jujur, patuh kepada orang tua dan pemimpin mereka, berusaha menjaga persahabatan dan memiliki kebutuhan yang sangat minim, serta punya rasa tanggung jawab terhadap keluarga, kerabat dan tetangganya.
            Sekilas roman keterbelakangan mereka disebabkan karena mereka jauh dari beragam informasi dan aasing dari beragam stimulus-invrovisasi yang berasal dari luar. Jauhnya mereka dengan informasi tersebut dilatar belakangi oleh dua faktor :
1.      Secara geografis, letak tepat tingga dan perkampungan mereka yang terpencil, hingga sulit di jangkau.
2.      Karena mereka terlalu bersikap auto prfektif terhadap warisan leluhur dan adat istiadat, yang menurut mereka dapat terdistorsi jika menerima beberapa stimulan luar.
Pakaian keseharian mereka, mencerminkan bahwa mereka adalah orang yang menjunjung inggi adat, dan berasal dari daerah terpencil. Biasanya mereka memakai pakaian yang mirip dengan budaya hindu-bali. Mereka suka menggunakan ikat kepala yang disebut sapuk untuk aki-laki dan jowong untuk yang perempuan,
      Selain dari beberapa ciri di atas, terdapat bebearpa kriteria khusus mengidentikkan keberadaan penganut wetu telu dalam lingkungan masyarakat sasak secara  umum, diantaranya adalah kegemaran mereka untuk ngayo dan midang[11]  hubunganya dengan keinginan mereka untuk membina kerukunan di antara mereka, mengembangkan solidaritas sosial, tenggang rasa,  hormat menghormai, dan berbagai nilai serta norma kemasarakatan lainya.
      Dalam tradisi ini orang diayokan atau yang dipidang (apalagi yang ngayo itu adalah rang tua yang memiliki pengaruh didesa dan lingkungan sekitar), dalam hal ini adalah tuan rumah seringkali menyuguhkan minumankhas sasak yaitu tuak[12] dan berem[13]
Para pria biasanya melakukan aktifitas midang setelah shalat magrib. Pria tersebut dan tamu-tamu yang lain disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk di berugak yang sengaja dibangun unuk tempat musyawarah, atau biasanya para tamu di terima diruang tamu.[14] Tamu pria yang datang untuk midang biasanya lebih dari satu orang, sehingga kesempatan tersebut dipergunakan oleh sang gadis dengan lebih leluasa untuk memilih dan menentukan pasangan yang dianggapnya tepat. Sedangkan bagi para pria, suasana tersebut dijadikan sebagai ajang kompetisi satu sama lain untuk memperebutkan hati sang gadis.
      Bartholomew menilai bahwa saat sekarang ini midang merupakan cara terbaik bagi suatu pasangan untuk melangkah ke jenjang perkawinan. Karena pada saat midang, saat pemuda tidak hanya berbicara dengan sang gadis semata, namun orang tua bbiasanya juga ikut bergabung., berbiincang-bincang dengan para pria yang datang sehingga si gadis dan keluarganya  bias mengenal seluk beluk dan jati diri sang pemuda yang midang saat itu.[15]
b.       
c.       PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa Sasak, terutama aksara (bahasa tertulis) nya sangat dekat dengan aksara Jawa dan Bali, sama sama menggunakan aksara Ha Na Ca Ra Ka dst. Tapi secara pelafalan cukup dekat dengan Bali.
Menurut ethnologue yang mengumpulkan semua bahasa di dunia, Bahasa Sasak merupakan keluarga (Languages Family) dari Austronesian Malayo-Polynesian (MP), Nuclear MP, Sunda-Sulawesi dan Bali-Sasak.
Sementara kalau kita perhatikan secara langsung, bahasa Sasak yang berkembang di Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, contoh : Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan)
3. Merarik (Selarian)
Mencuri atau Menculik tak selamanya salah dan tak selamanya pelaku di masukkan ke dalam penjara, tidak percaya cobalah anda berkunjung ke Pulau Lombok disana anda akan menemukan sebuah taradisi yang sangat unik dan mungkin tidak akan di temukan di tempat lain, Tradisi unik ini adalah sebuah tradisi yang di lakukan oleh seorang Pemuda (Teruna) sebelum melakukan pernikahan. Para teruna harus mencuri atau menculik pasangannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya, apabila dalam sehari semalam tidak ada kabar dari si gadis maka oleh keluarganya telah di anggap sudah menikah..!
Dari anggapan para Teruna Lombok (Pemuda) pernikahan dengan cara mencuri di anggap lebih kesatria dibandingkan dengan cara meminta secara hormat kepada orang tua si gadis. Jangan anggap remeh tradisi ini seperti dengan beranggapan tinggal mencuri dan langsung menikah, dalam tardisi ini ada beberapa aturan-aturan yang harus di lalui seperti dilakukan pada malam hari dan harus membawa teman atau kerabat yang berfungsi sebagi pengecoh supaya pada saat proses pencurian tidak mudah terlihat oleh seorangpun, apabila terlihat maka dari pihak keluarga ataupun desa akan mengenakan denda kepada Teruna, selain sebagai pengecoh kerabat yang di bawa berfungsi sebagai saksi dan sebagai pengiring pada saat proses pencurian.
Setelah berhasil mencuri, anak gadis tidak boleh di bawa pulang ke rumah Teruna pada saat itu juga, melainkan harus di bawa ke rumah kerabat laki-laki terlebih dahulu, setelah beberapa malam menginap maka dari keluarga kerabat akan mengirim utusan kepada keluarga si gadis untuk memberitahukan bahwa anak gadisnya telah di curi dan sudah berada di suatu tempat persembunyian yang di rahasiakan dari keluarga si gadis,Nyelabar adalah istilah untuk proses pemberitahuan kepada keluarga si gadis ini. Pada saat proses nyelabar tidak boleh di ikut sertakan keluarga dari si Teruna. Proses nyelabar ini terdiri dari lima orang tidak boleh lebih ataupun kurang, pada saat proses nyelabar di haruskan untuk menggunakan pakaian adat sasak asli. Rombongan nyelabar tidak boleh langsung datang ke rumah si gadis melainkan terlebih dahulu datang ke rumahkeliang atau tetua adat setempat untuk meminta izin, setelah mendapatkan izin barulah kerabat dari pihak teruna di perbolehkan secara langsung mengunjungi rumah si gadis, para penyelabar tidak di perkenankan untuk memasuki rumah melainkan harus duduk bersila di halaman depan rumah . satu dari lima orang inilah yang akan menjadi juru bicara untuk menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan mereka.
Setelah beberapa proses di lalui maka terjadilah sebuah pernikahan, dalam peroses pernikahan. Di desa gangga yang terletak di kabupaten lombok utara ada sebuah keunikan dalam prosesi pernikahan. Pernikahan di lakukan di atas Berugak dan di kelilingi oleh kerumunan masyarkat, apabila pada saat proses ijab kabul pengantin laki-laki membuat suatu kesalahan dalam pengucapan maka seketika itu masyarakat akan bersorak serentak, tak heran prosesi ijab kabul ini kerap kali di ulang sampai tiga kali atau lebih. terkadang walaupun dalam pengucapan ijab kabul tidak terdapat satupun kesalahan para penonton masih tetap bersorak dan serentak mengucapkan tidak sah tidak sah sehingga pernikahan yang sebenarnya sudah sah harus di ulang kembali sampai semua masyarakat berteriak mengucapkan kata sah. Inilah salah satu keunikan yang terdapat di masyarkat Lombok.
Setelah beberapa hari kemudian masyarakat lombok biasayanya mengadakan sebuah perayaan yang dinamakanNyongkolang, dalam perayaan ini pengantin wanita akan di bawa pulang ke rumah orangtuanya untuk pertamakali setelah kejadian prosesi penculikan sebelumnya dengan berpasangan dan di iringi oleh pengiring dan musik tarisionalGendang Beleq, pengantin pria dan wanita di arak dengan cara berjalan menuju rumah pengantin wanita. Proses Nyongkol ini bertujuan untuk meberitakan kepada masyarakat bahwa pasangan pengantin telah melakukan sebuah prosesi pernikahan yang sah dari segi agama dan juga adat masyarakat suku sasak.
Dalam proses Nyongkolang ini Kedua mempelai akan di iringi oleh musik tradisional asli lombok yaitu Gendang Beleq dan ada juga sebagian yang menggunakan Kecimol, pada saat musik di tabuh (dimainkan) langkah demi langkah di jalankan menuju rumah pengantin perempuan, tak jarang pada saat musik di tabuh sebagian pengiring berjoged dengan gembira di sela-sela perjalanan, setelah sampai di tujuan biasanya rombongan pengiring akan di sambut dengan berbagai macam jamuan tradisional suku sasak. tak jarang dari sebagian besar pada proses ini pengantin wanita akan menangis histeris di kaki orangtua mereka karena dari awal proses yaitu dari proses penculikan sampai proses nyongkolanglah mereka baru bisa melihat orang tua mereka, itulah alasan kenapa sebagian besar pangantin wanita menangis ketika bertemu orang tua mereka.
1. Bau nyale
Bau Nyale adalah sebuah peristiwa atau tradisi sakral yang sarat akan legenda yang melatar belakangi ritual tersebut. Dikisahkan, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang cantik jelita dan banyak diperebutkan oleh banyak putra mahkota dari raja-raja di Nusantara. Putri cantik itu bernama Putri Mandalika. Ia seorang putri Raja Tonjang Baru yang kerajaannya berada di wilayah yang didiami oleh suku Sasak sekarang ini.
Karena kecantikannya yang banyak menarik para putra mahkota untuk meminangnya hingga Putri Mandalika menjadi bingung untuk menerima atau menolak salah satu dari mereka. Bila salah satu ditolak pinangannya maka tak pelak lagi pasti akan terjadi peperangan seperti lazimnya zaman itu di mana tradisi pada saat itu yang menganggap penolakan sebuah pinangan dianggap sebagai suatu pelecehan martabat dan harga diri. Karena kebingungan dan kecemasan akan meletusnya peperangan hanya karena pinangan mereka ditolak, maka pada akhirnya Putri Mandalika, pada tanggal 20 bulan kesepuluh memutuskan untuk menceburkan diri ke laut lepas, hingga akhirnya tewas dan kemudian menjelma menjadi roh halus yang mendiami kawasan tersebut.
Dasar kepercayaan inilah yang kemudian menjadi pijakan bagi Suku Sasak untuk menyelenggarakan ritual Bau Nyale secara rutin. Suku sasak percaya bahwa Nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang oleh karenanya sebelum diambil dan dimanfaatkan harus diberi penghormatan khusus terlebih dahulu. Nyale sendiri sebenarnya adalah sejenis binatang laut berkembang biak dengan bertelur, perkelaminan antara jantan dan betina. Upacara ini diadakan setahun sekali pada setiap akhir Februari atau Maret. Bagi masyarakat Sasak, Nyale dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan seperti santapan (Emping Nyale), ditaburkan ke sawah untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.
d.       


[1] Masyarakat Lombok pada umumnya menyebut komunitas wetu telu sebagai “waktu tiga” karena konon komunitas ini melaksanakan ritual shalat hanya tiga kali atau tiga waktu.
[2] Erni Budiwanti, Islam Sasak wetu telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKIS, 2000), hlm. 29.
[3] Fawaizul Umam, dkk, Membangun Resistentsi Merawat Tradisi Modal Sosial Komunitas wetu telu ( Mataram: LKIM  IAIN M ataram, 2006), hlm. 86.
[4] Sugeng Hardiyanto, tradisi dan Modernitas dalam gema duta wacana. No 49 (1995), hlm.2.
[5] Edward Shils, Tradition (chikago: the University of chikago, 1981), hlm.2.n
[6] David Hume, A Ttretise of Human Nature, (Oxford: The Calrendon Press, 1951), hlm. 15.
[7] Mircea Eiade, di kutip oleh Ahmad Norma Permata (ed), Metodolgi Studi Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2000), hlm.172-173
[8] W.M. Urban, Languangeand Reality : The Philosophy of the Prinsiple of simbolism (London:1939).hlm.47
[9] Erni, hlm. 7
[10] Ahmad jazuli, skripsi: Metode dakwah Ponsok Pesantren Nurul Hakim pada Masyarakat wetu telu “studi tentang Masyarakat wetu telu di bayan, Lombok Barat”, (Fak.Dakwah UIN Sunan Kaijaga Yogyakarta, 1997), hlm.35.
[11] Sebenarnya antara ngayo dan midang adalah dua term yang mengandung satu makna. Saat ini erm midang kebanakan di konotasikan khusus pada kunjungan antara  dua orang muda-mudi yang ingin menikah. Degan bahasa lainya, midang diarikan sebagai salah satu cara untuk mencari pasangan hidup.
[12] Tuak adalah salah satu jeniis minuman ang memabukkan yang erbuat dari air pohon aren (sasak: lolon nau)
[13] Berem, juga termasuk salah satu minuman yang memabukkan, bahkan jauh lebih berkualitas dari minuman jenis pertama. Berem terbuat dari sari pati atau hasil dari perasan tape ketan yang kemudian di simpan dalam jangka waktu lama setelah disaring terlebih dahulu.
[14] Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan: akulturasi nilai-nilai Islam dalam Budaya sasak (Yogyakarta: Adab Press, 2006), hlm. 187.
[15] Jhon Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearipan Masyarakat Sasak, ter. Imron Rosyidi (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hlm. 172.